Sengketa Laut China Selatan, Hubungan ASEAN dan China Terancam Retak

akhirnya mengambil sikap tegas terhadap sengketa Laut China Selatan dengan mengkritik China atas klaim perairan tersebut. Kritik ini disampaikan dalam pertemuan untuk menandai ulang tahun ke-25 hubungan perserikatan sepuluh tersebut dengan China, yang dilakukan di Kunming, sebuah kota di barat daya Negeri Tirai Bambu.

Dalam pertemuan itu, ASEAN menyampaikan kekecewaannya atas upaya China yang sedang membangun buatan di Laut China Selatan yang disebut dengan “defensive facilities” dan patroli pengintaian yang dilakukan angkatan perang AS. “Kami menekankan pentingnya menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kebebasan navigasi di atas Laut China Selatan,” kata para Luar Negeri ASEAN.

Sempat beredar pula pernyataan bersama Menlu ASEAN dengan Menteri Luar Negeri China. Namun menurut juru bicara Kemenlu RI, Arrmanatha Nasir, bocoran penyataan tersebut adalah guidelines yang akan dikeluarkan saat pers. Sayangnya, media guidelines tersebut batal digunakan karena para Menlu tidak berhasil mencapai kesepakatan mekanisme penggunaan konten media itu seperti apa, apakah pernyataan bersama atau pers.

Meski begitu, beberapa pengamat menilai, keretakan telah tumbuh dalam hubungan ASEAN dengan China karena sengketa Laut Cina Selatan. “Fakta bahwa secara sepihak merilis ringkasan dari diskusi para menteri luar negeri menunjukkan kepada kita bahwa mereka juga ingin membuat pernyataan yang kuat,” kata Bill Hayton.

“China ingin menekan sebuah pernyataan yang kuat di Laut China Selatan,” sambung penulis The South China Sea: The Struggle for Power in Asia tersebut. “Namun, ASEAN telah siap mengirim sebuah ‘pesan’ ke pemerintah China.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut telah membahas konsolidasi tentang antara kedua belah pihak. “Suara umum China dan ASEAN telah mengabdikan diri untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan itu,” kata Wang kepada pers pasca-konferensi.

Loading...