Semua Pihak Harus Bekerjasama Selamatkan Rupiah

Edy Suandi HamidBabak Pelemahan terhadap AS akhir-akhir ini tampaknya tidak bisa dianggap wajar oleh sebagian pihak. Fenomena ini terjadi akibat situasi global yang tidak kondusif, ditambah lagi dengan merosotnya kondisi perekonomian Cina sebagai mitra utama Indonesia. Hal ini tentunya akan mengganggu kestabilan aktifitas ekspor Indonesia.

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Yogyakarta, mengatakan bahwa pemakluman akan melemahnya Rupiah ini bisa memicu misleading, seolah hanya faktor eksternal saja yang menjadi penyebabnya. Padahal Edy Suandi merasa yakin bahwa banyak hal dalam manajemen perekonomian Indonesia yang sebenarnya perlu dibenahi. “Tidak hanya faktor luar yang menyebabkan nilai Rupiah semakin tertekan terhadap Dolar (AS), namun ada juga faktor internal yaitu dalam manajeman ekonomi Indonesia,” ujarnya saat ditemui di Yogyakarta, kemarin (4/7).

Secara teoritis, persoalan krisis Rupiah ini seharusnya menguntungkan pihak eksportir karena daya saing mereka jadi lebih maksimal. “Namun seberapa besar itu dinikmati banyak rakyat ini, dan juga perannya dalam struktur ekonomi kita, serta realitas yang ada? Ternyata ekspor tidak langsung melonjak signifikan, dan surplusnya neraca di bulan-bulan terakhir ini bukan karena lompatan ekspor. Namun lebih karena lemahnya permintaan sejalan dengan lemahnya produksi,” ungkap Edy Suandi.

Secara lebih mendalam, Edi menyatakan bahwa semua pihak harus terlibat untuk menguatkan Rupiah, baik itu Bank Indonesia, Otoritas Jasa , secara keseluruhan, dan para pelaku ekonomi. “Harus dilihat juga bagaimana penanganan sektor riil kita? Bagaimana infrastruktur transportasi kita? Kebijakan berbagai komoditas, birokrasi perizinan, stimulus kebijakan di pertanian, , maritim dan sebagainya. Bagaimana menangani praktik KKN yang terjadi dan bagaimana koordinasi antar unit-unit yang ada di birokrasi,” tukas Edy.

Loading...