Sempat Menurun, Harga Jagung Dunia Tahun Depan Diprediksi Naik

Harga Jagung - www.arah.comHarga Jagung - www.arah.com

Para tampaknya bakal mengecap keuntungan setelah merosotnya kedelai belum lama ini. Pasalnya 2019 depan harga jagung kemungkinan bakal . Berdasarkan proyeksi Department of Agricultural, Environmental, and Development Economics (AEDE) di Ohio State University, harga jagung dunia depan diperkirakan akan membaik.

“Ketika pasokan jagung dunia menyusut, itu akan menaikkan harga jagung,” kata Ben Brown, manajer program manajemen pertanian di College of Food, Agricultural, and Environmental Sciences (CFAES), seperti dilansir Croplife.

Menurut Brown, harga rata-rata pemasaran per bushel jagung adalah USD 3,36 pada 2018 dan kemungkinan akan naik di atas USD 3,60 pada 2019. Sementara itu, menurut data terakhir bulan November 2018 dari Business Insider, harga komoditas jagung dunia berada di angka USD 3,61. Walaupun menurut prediksi hanya ada kenaikan kecil, tetapi tiap kenaikan 10 sen dalam harga jagung dapat berpotensi menghasilkan sekitar USD 19 lebih dalam pendapatan per hektare jagung.

“Harga tanaman untuk jagung dan kedelai turun drastis sejak musim panas, tetapi harga jagung mulai pulih. Harga rendah jagung AS saat ini mendorong ekspor hasil panen dimulai pada bulan September,” papar Brown.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah belum lama ini yang memutuskan untuk melakukan jagung rupanya menuai polemik. Pasalnya pemerintah mengimpor 100 ribu ton jagung di tengah perhitungan produksi jagung tahun 2018 yang diperkirakan mencapai 12,98 juta ton.

“Indonesia sebagai bagian dari warga , akan terus konsisten mengikuti aturan yang berlaku di tingkat , seperti WTO. Namun usaha dan upaya kita untuk kemandirian dan kedaulatan pangan, tidak boleh berhenti,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjend) Kementerian Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro.

Dengan alasan kemandirian pangan itu, Kementan merasa impor jagung boleh dilakukan dalam kondisi tertentu agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Keputusan ini menurutnya diambil sebagai upaya untuk penyelamatan peternak ayam mandiri, serta menjaga stabilitas harga ayam dan telur.

“Sebagai upaya melindungi masyarakat konsumen dengan menjaga harga pasokan pangan dan stabilitas harga di . Sehingga angka inflasi terjaga sebagaimana yang ditargetkan pemerintah,” beber Syukur.

Senada, Dekan Fakultas Pertanian Institut Ilmu Pertanian Bogor (IPB), Suwardi mengatakan bahwa untuk tujuan tertentu kadang impor juga diperlukan. “Dari segi jumlah produksi untuk memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri, produksi kita mungkin saja sudah mencukupi. Tetapi jumlah saja tidak cukup karena masih ada faktor lain,” tandasnya.

Loading...