Selesaikan Pembebasan Lahan, Proyek KA Cepat Jakarta-Bandung Kembali Bergulir

Proyek KA Cepat Jakarta-Bandung - asia.nikkei.com

JAKARTA – Proyek berkecepatan tinggi di kembali bergulir setelah berencana untuk menyelesaikan pembebasan untuk memenuhi dari China selaku penyokong dana. China diperkirakan memberi pinjaman awal sebesar 1 miliar AS pada pekan depan untuk membiayai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sejauh 140 km tersebut.

Rencana Indonesia sebelumnya adalah meminjam dana untuk sebagian besar dari total proyek, lebih dari 5 miliar dolar AS, dari China Development Bank. Namun, pinjaman tersebut tergantung dari Indonesia untuk ‘mengamankan’ semua lahan yang dibutuhkan proyek kereta api, sebuah proses yang harus menunda pengerjaan proyek cukup lama. Pasalnya, setelah dilakukan peletakan batu pertama pada bulan Januari 2016, proyek ini memang terkendala pembebasan lahan.

Para lembaga terkait, seperti Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengatakan bahwa penyelesaian pembebasan lahan sudah ada di depan mata. Namun, penundaan ini membuat biaya membengkak sekitar 17 persen dari perkiraan semula yang sebesar 5,1 miliar dolar AS menjadi 6 miliar dolar AS.

Pemerintah bakal menggunakan pengambilalihan hukum untuk membebaskan tanah di sekitar terminal yang direncanakan di Bandung, yang selama ini menjadi sumber perhatian. Negosiasi juga dilakukan untuk operator kereta yang menyewa lahan militer untuk terminal di dekat Bandara Internasional Halim Perdanakusuma.

Pada pertemuan Beijing’s Belt and Road Forum for International Cooperation di hari Minggu (14/5) dan Senin (15/5) mendatang, Presiden Joko Widodo berharap bisa mencapai kesepakatan pendanaan. “Negara tersebut berencana menandatangani kontrak pinjaman pada hari Senin,” ujar Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, yang juga mantan menteri perdagangan.

Beijing diperkirakan akan memulai dengan memberikan pinjaman parsial sebesar 1 miliar dolar AS. Dengan dana tersebut, Indonesia bisa membangun konstruksi pada bulan Mei ini, namun dibutuhkan usaha ekstra jika penyelesaian dapat rampung sesuai waktu yang ditargetkan, yaitu pada tahun 2019 mendatang.

Loading...