Selasa Sore, Rupiah Tetap Naik Saat Dolar Diburu

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – ternyata mampu terus bergerak naik hingga Selasa (22/1) sore, ketika aset safe haven seperti dolar AS diburu, imbas kekhawatiran mengenai perlambatan global. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menguat tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.220 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.221 per dolar AS, melemah 9 poin atau 0,06% dari sebelumnya di level Rp14.212 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,47% menghampiri ringgit Malaysia.

Dari pasar global, indeks dolar AS masih bergerak di teritori hijau pada hari Selasa, karena pertumbuhan ekonomi yang turun ke level terendah dalam 28 tahun menghidupkan kembali kekhawatiran investor mengenai pertumbuhan global, sekaligus mengangkat pamor aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,058 poin atau 0,06% ke level 96,394 pada pukul 12.27 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, semalam, International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan global tahun 2019 dan 2020, merujuk perlambatan yang lebih besar di China dan zona Eropa. IMF pun mengatakan bahwa kegagalan untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan berpotensi semakin mengganggu kestabilan ekonomi global.

Pada Senin (21/1) kemarin, data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2018 hanya mencapai 6,6%, paling lambat sejak tahun 1990 silam. Perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu terjadi karena sektor investasi yang lesu dan tingkat kepercayaan melemah seiring tekanan perdagangan dari saingan utama, AS.

Secara keseluruhan, dolar AS sebenarnya juga menghadapi tekanan tidak langsung dari perlambatan ekonomi global, yang telah memaksa untuk mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap kenaikan lebih lanjut. Spekulasi tersebar bahwa akan segera menghentikan siklus pengetatannya.

“Kami tidak melihat Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini, yang seharusnya dapat berimbas pada pelemahan dolar AS,” tutur ahli strategi pasar senior di pasar BNZ, Jason Wong. “Kami juga berpikir dolar overbought dan dinilai terlalu tinggi pada metrik fundamental.”

Loading...