Selasa Sore, Rupiah Tetap Menguat Saat Kurs Asia Loyo

Rupiah - www.savemoneychanger.comRupiah - www.savemoneychanger.com

JAKARTA – tetap melaju mulus di teritori hijau pada Selasa (26/2) sore meski mayoritas tidak berdaya melawan dolar AS, justru saat relatif bergerak lebih rendah. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menguat 26 poin atau 0,19% ke level Rp13.992 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.990 per dolar AS, menguat 17 poin atau 0,12% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.007 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,18% dialami ringgit Malaysia.

Dari , indeks dolar AS masih bergerak lebih rendah pada hari Selasa, namun menguat terhadap yen Jepang, setelah optimisme atas negosiasi perdagangan AS-China meningkatkan selera investor untuk aset berisiko selama sesi sebelumnya. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,017 poin atau 0,02% menuju level 96,396 pada pukul 12.52 WIB, melanjutkan tren negatif di pembukaan.

Seperti diberitakan Reuters, greenback naik lebih dari 0,3% terhadap yen pada hari Senin (25/2) setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan ia akan menunda kenaikan impor terhadap barang-barang China. Selain itu, Trump juga akan merencanakan pertemuan puncak dengan Presiden China, Xi Jinping, di Mar-a-Lago untuk menyimpulkan perjanjian, dengan asumsi pembicaraan perdagangan membuat kemajuan tambahan.

“Dolar AS telah bergerak dengan kuat ke kisaran level 111 terhadap yen,” kata ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Greenback melayang tepat di bawah MA 200-hari terhadap mata uang Jepang. Yen kemungkinan tidak akan melemah lebih jauh dari level saat ini, tetapi telah jelas turun berdasarkan mata uang silang.”

Saat ini, investor sedang menantikan sejumlah data ekonomi yang bakal diumumkan pada minggu ini untuk isyarat baru mengenai kesehatan ekonomi global, termasuk angka aktivitas manufaktur dari China dan AS serta data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal keempat yang direvisi. Investor juga mencari petunjuk tentang pandangan terbaru Federal Reserve tentang ekonomi dan kebijakan moneter.

Gubernur The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan bersaksi di hadapan Komite Perbankan Senat pada hari Selasa waktu setempat. Powell dan pembuat kebijakan The Fed lainnya telah mengindikasikan bahwa mereka bisa bersabar sebelum menaikkan suku bunga pinjaman lagi, menyusul tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Loading...