Selasa Sore, Rupiah Tetap Menguat Jelang Testimoni Jerome Powell

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Selasa (17/7) sore di tengah penantian pasar akan testimoni Gubernur , Jerome Powell, di depan Kongres AS. Menurut pantauan Index pukul 15.26 WIB, Garuda terpantau menguat 16 poin atau 0,11% menuju level Rp14.378 per AS.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup melemah 16 poin atau 0,11% di posisi Rp14.394 per dolar AS pada akhir Senin (16/7) kemarin. Pagi tadi, mata uang NKRI mampu rebound dengan dibuka menguat tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp14.390 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot sanggup bertahan di zona hijau seiring dengan pergerakan mayoritas mata uang .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp14.391 per dolar AS, naik 5 poin atau 0,04% dari sebelumnya di posisi Rp14.396 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus , dengan penguatan tertinggi sebesar 0,51% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar berbalik melemah pada siang hari, di tengah penantian investor akan testimoni pertama Gubernur The Fed, Jerome Powell, di depan kongres untuk memperoleh petunjuk mengenai laju kenaikan suku bunga. Mata uang Paman Sam melemah tipis 0,06 poin atau 0,06% ke level 94,451 pada pukul 10.57 WIB meski sempat dibuka dengan penguatan.

Seperti diberitakan Reuters, Powell dijadwalkan akan memberikan kesaksian tentang dan kebijakan moneter di depan Komite Perbankan Senat AS pada Selasa siang waktu setempat, disusul kesaksian di depan Komisi Jasa Keuangan DPR AS pada Rabu (18/7) esok. Powell kemungkinan akan menegaskan kembali kebijakan pengetatan moneter The Fed secara bertahap dalam kesaksiannya.

“Tampaknya pasar berfokus pada apakah perang perdagangan antara AS dan China dapat memengaruhi prospek pengetatan moneter The Fed,” tutur kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Powell, yang merupakan anggota Partai Republik dan dekat dengan administrasi Trump, mungkin tidak akan banyak menekankan tentang sisi negatif dari perang perdagangan AS-China.”

Loading...