Selasa Sore, Rupiah Positif Saat Dolar Terpukul Komentar Trump

Rupiah - tandichen.blogspot.comRupiah - tandichen.blogspot.com

Komentar Presiden AS, Donald Trump, yang ‘tidak senang’ terhadap kenaikan suku bunga membuat indeks AS tergelincir, dan bisa dimanfaatkan untuk menguat. Menurut Yahoo Finance, NKRI terpantau menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.575 per dolar AS pada Selasa (21/8) pukul 15.55 WIB. Sementara, Index menunjukkan spot naik 14 poin atau 0,10% ke posisi Rp14.574 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.568 per dolar AS, menguat 10 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.578 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,53% menghampiri baht Thailand, disusul won Korea Selatan yang naik 0,46%.

Dari global, indeks dolar AS tergelincir terhadap yen Jepang dan sekeranjang mata uang utama dunia pada hari Selasa, setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dirinya ‘tidak senang’ dengan Gubernur The Fed, Jerome Powell, karena menaikkan suku bunga. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,37 poin atau 0,39% ke level 95,53 pada pukul 11.01 WIB.

Diberitakan Reuters, pelemahan dolar AS terjadi setelah Trump dalam sebuah interview pada Senin (20/8) kemarin mengatakan bahwa dia ‘tidak senang’ dengan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Menurut Trump, The Fed harus lebih akomodatif terhadap suku bunga. Sebelumnya, ia juga sempat mengutarakan kritik terhadap kebijakan pengetatan moneter yang diterapkan bank sentral tersebut.

Selain itu, Trump juga menuturkan bahwa Federal Reserve harus berbuat lebih banyak untuk membantu pemerintah meningkatkan ekonomi, sementara ia juga menuduh China dan Eropa telah memanipulasi mata uang masing-masing. Sebelumnya, ketegangan perdagangan antara AS dan mitra dagang sempat membuat greenback mencapai level 96,984 pada 15 Agustus kemarin, posisi tertinggi sejak Juni 2017.

“Saat ini, pasar khawatir bahwa komentar Trump mungkin berdampak pada kebijakan The Fed, terutama kurs dolar AS terhadap yen, yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga,” tutur kepala mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Namun, selama ekonomi AS baik-baik saja, saya pikir tidak alasan bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga mereka.”

Loading...