Selasa Sore, Rupiah Negatif Jelang FOMC Meeting

Rupiah - baca.co.idRupiah - baca.co.id

Menjelang pertemuan , yang dipercaya akan menaikkan suku bunga, laju dolar AS terus menguat sehingga menutup peluang untuk bergerak pada Selasa (25/9) sore. Menurut paparan Index pukul 15.22 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah 52 poin atau 0,35% ke level Rp14.918 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.927 per dolar AS, terdepresiasi 62 poin atau 0,42% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.865 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,33% menghampiri peso Filipina dan rupiah.

Dari pasar , indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa, jelang pertemuan Federal Reserve yang diyakini akan menaikkan suku bunga acuan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,14 poin atau 0,15% ke level 94,325 pada pukul 11.07 WIB, setelah kemarin sempat berakhir di area merah.

Seperti diberitakan Reuters, Federal Reserve dijadwalkan memulai pertemuan mereka pada hari ini waktu setempat dan diprediksi menaikkan suku bunga acuan untuk kedelapan kalinya sejak akhir tahun 2015 lalu. Pasar juga bertaruh bahwa bank sentral AS tersebut akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun ini, meski prospek untuk tahun depan masih kurang jelas.

Tenaga dolar AS semakin bertambah karena tensi perang perdagangan global ternyata masih belum usai. Pada hari Senin (24/9) kemarin, AS dan China memberlakukan baru atas barang-barang satu sama lain tanpa tanda-tanda ada pihak yang bersedia mengalah. Dalam beberapa bulan terakhir, investor telah dibuat khawatir karena meningkatnya tensi dagang AS-China yang memicu ketidakpastian tentang global.

“Dolar AS tetap menjadi mata uang utama ketika ada pertanyaan tentang risiko atau stabilitas atau situasi geopolitik seperti sekarang ini,” tutur manajer cabang Tokyo di State Street Bank, Bart Wakabayashi. “Jika kita memiliki berita negatif tentang pembicaraan Brexit, itu akan menjadi dorongan besar untuk greenback. Dan, jika ada semacam sentimen hawkish yang lebih dari perkiraan , itu harusnya menjadi dorongan lain untuk dolar AS.”

Loading...