Selasa Sore, Rupiah Naik Setelah Bergerak Fluktuatif

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

JAKARTA – Setelah bergerak naik turun seperti yoyo, rupiah akhirnya mampu menutup perdagangan Selasa (11/6) sore di zona hijau, di tengah meningkatnya selera terhadap aset berisiko. Menurut paparan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda menguat 13 poin atau 0,09% ke level Rp14.237 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.258 per , terdepresiasi 27 poin atau 0,19% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.231 per . Di saat yang bersamaan, justru cenderung bergerak menguat melawan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,37% dialami won Korea Selatan.

Dari global, pergerakan dolar AS relatif stabil pada hari Selasa, seiring dengan meningkatnya selera investor terhadap aset berisiko setelah menangguhkan rencana pengenaan impor terhadap Meksiko, meski kekhawatiran mengenai tensi dagang dengan China masih muncul. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,014 poin atau 0,01% ke level 96,775 pada pukul 13.00 WIB.

Diberitakan Reuters, pada Senin (10/6) waktu setempat, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya siap untuk mengenakan tarif lain pada impor produk China jika dirinya tidak mencapai kesepakatan perdagangan dengan Presiden China, Xi Jinping, pada KTT G20 di Osaka, Jepang. Sejak negosiasi di Washington buntu, Trump memang berharap untuk bisa bertemu Xi Jinping.

“Namun, (pertemuan) itu mungkin tidak akan terjadi jika pihak China berpikir tidak ada gunanya mengadakan pertemuan apabila pendapatnya jauh dari awal,” ujar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Trump telah memberikan tekanan dengan menekankan pasti akan ada pertemuan, tetapi tidak jelas apa yang akan dilakukan pihak Tiongkok.”

Sentimen pasar yang lebih luas mendapat dukungan dari perdagangan Meksiko dan kesepakatan migrasi, mengirimkan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke posisi lebih tinggi pada Senin malam. Namun, investor masih ragu-ragu untuk mengambil lebih banyak risiko karena ketidakpastian tentang apa yang dilakukan Trump dalam hubungannya dengan China menjelang KTT G20.

Loading...