Selasa Sore, Rupiah Lemas Digempur Virus Corona

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – Rupiah gagal bertahan di area hijau pada Selasa (3/3) sore ketika wabah virus yang terus meluas membuat para petinggi G7 dan gubernur bank sentral harus mengadakan pertemuan mendadak untuk memperbaiki kejatuhan . Menurut data Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 18 poin atau 0,13% ke Rp14.283 per .

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.222 per dolar AS, melonjak 191 poin atau 1,33% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.413 per dolar AS, penguatan harian terbaik sejak 7 Januari 2019. Kenaikan ini juga memutus rantai depresiasi yang sudah terjadi selama sembilan hari beruntun, dengan total penurunan 5,39%.

Dari pasar global, aset safe haven seperti yen Jepang serta indeks dolar AS mampu bergerak lebih tinggi pada hari Selasa, ketika yakin akan ada pelonggaran moneter guna memerangi kerusakan ekonomi akibat wabah virus corona. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,073 poin atau 0,08% ke level 97,433 pada pukul 12.52 WIB, sedangkan yen naik 0,5% menuju posisi 107,80.

Seperti diberitakan Reuters, para menteri keuangan dari Kelompok G7 serta gubernur bank sentral dijadwalkan akan menggelar konferensi pada hari ini untuk membahas langkah-langkah guna menangani wabah virus ekonomi yang menyebabkan kejatuhan ekonomi yang meluas. Rapat direncanakan digelar pada pukul 12.00 GMT dan pasar bertaruh bahwa Federal Reserve akan memimpin kebijakan pelonggaran moneter.

Dalam sebuah pernyataan, yang mungkin dirilis Selasa atau esok (4/3), negara-negara G7 akan berjanji untuk bekerja sama untuk mengurangi kerusakan pada ekonomi mereka, tanpa merinci secara spesifik, demikian menurut sebuah sumber terdekat. Itu membuat investor kembali berasumsi bahwa virus dan perlambatan ekonomi yang ditimbulkannya akan melukai, tidak lagi terbatas pada aset yang terpapar .

“Kami tidak memiliki harapan tinggi bahwa G7 akan mengumumkan pelonggaran kebijakan yang terkoordinasi,” kata analis mata uang CBA, Joe Capurso ,melalui telepon dari Sydney kepada Reuters. “Kami melihat beberapa bank sentral enggan untuk menarik pelatuk, seperti ECB dan Bank of Japan, karena mereka tidak punya banyak ruang untuk memudahkan.”

Loading...