Selasa Sore, Rupiah KO Dihantui Konflik AS-China

Rupiah - finrollnews.comRupiah - finrollnews.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit dan bergerak ke area hijau pada Selasa (14/5) sore menyusul konflik dagang antara AS dan China yang masih belum selesai, bahkan lebih memanas. Menurut catatan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 11 poin atau 0,08% ke level Rp14.434 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.444 per dolar AS, melorot tajam 82 poin atau 0,57% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.362 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang bertekuk lutut versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,26% menghampiri yen Jepang.

Seperti diberitakan Bloomberg, tensi dagang antara AS dan China semakin memanas setelah Negeri Panda pada Senin (13/5) kemarin mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif terhadap asal Negeri Paman Sam senilai 60 miliar dolar AS. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk balasan terhadap sikap AS yang lebih dulu menaikkan tarif impor asal China senilai 200 miliar dolar AS.

“Situasi kemungkinan akan tetap buruk bagi mata uang Asia, terutama karena wilayah ini memiliki hubungan perdagangan yang lebih dalam dengan China,” ujar ekonom di Mizuho Bank Ltd. di Tokyo, Kenta Tadaide. “Kami melihat aksi penghindaran aset berisiko masih mendominasi , tetapi negosiasi akan terus berlanjut sehingga aset-aset yang tidak akan diperdagangkan turun dalam garis lurus.”

Sementara itu, menurut pemberitaan Reuters, konflik perdagangan antara dua terbesar dunia diharapkan akan mereda menyusul rencana Presiden AS, Donald Trump, untuk bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, pada pertemuan puncak G20 bulan depan. Trump sendiri sempat bertutur bahwa ia mengharapkan pembicaraan perdagangan dengan China bisa berakhir sukses.

“Trump mengatakan dia percaya bahwa (pembicaraan perdagangan) akan berhasil, tetapi kesuksesan baginya belum tentu berhasil bagi China,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Ketika Beijing mengumumkan akan memberlakukan tarif yang lebih tinggi pada barang-barang asal AS, itu telah memperburuk pergerakan di pasar valuta asing selama sesi sebelumnya.”

Loading...