Selasa Sore, Rupiah Meroket Ditutup ke Rp16.200/USD

Rupiah - inapex.co.idRupiah - inapex.co.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Selasa (7/4) sore, ketika mayoritas mata uang lainnya juga sanggup memanfaatkan pelemahan yang dialami . Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda menguat 212 poin atau 1,29% ke level Rp16.200 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah atau kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp16.410 per dolar AS, menguat 146 poin atau 0,88% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.556 per dolar AS. Di saat bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,57% dialami won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS harus drop pada hari Selasa karena saham berjangka AS mengalami penurunan dan diperdagangkan lebih rendah, ketika beberapa tetap khawatir tentang guncangan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,333 poin atau 0,33% ke level 100,352 pada pukul 12.46 WIB.

Di sisi lain, seperti dilansir Reuters, pound sterling memang berhasil rebound terhadap dolar AS, tetapi sentimen untuk mata uang tersebut tetap rapuh setelah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dipindahkan ke perawatan intensif setelah gejala virus coronanya dilaporkan memburuk. Sementara, yen naik setelah Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, meluncurkan stimulus fiskal senilai hampir 1 triliun dolar AS untuk mengimbangi dampak ekonomi dari virus corona.

Meski demikian, investor memperingatkan bahwa kenaikan lebih lanjut dalam yen mungkin terbatas karena Abe telah setuju untuk menyatakan keadaan darurat bagi Tokyo dan bagian lain Jepang untuk memperlambat infeksi virus corona. Banyak pedagang mencari tanda-tanda puncak pandemi, tetapi beberapa analis memperingatkan volatilitas mengingat sifat tak terduga dari virus yang sebelumnya tidak diketahui.

“Tanda-tanda perlambatan dalam penyebaran coronavirus memberikan dorongan pasar, tetapi kenyataannya adalah kita tidak bisa memastikan, sehingga wajar bagi dolar AS untuk bergerak lebih rendah,” kata manajer umum departemen penelitian di Gaitame.com Research Institut di Tokyo, Takuya Kanda. “Sulit untuk berdagang semata-mata pada faktor-faktor dari satu negara, karena begitu banyak negara dalam keadaan buruk karena coronavirus.”

Loading...