Selasa Sore, Rupiah Melemah Saat Kurs Asia Perkasa

Rupiah - www.konfrontasi.comRupiah - www.konfrontasi.com

JAKARTA – tidak sanggup mengatrol posisi ke area hijau pada perdagangan Selasa (5/1) sore, ketika mayoritas justru tampil perkasa memanfaatkan pelemahan yang masih dialami . Menurut paparan Index pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp13.915 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp13.945 per , turun 42 poin atau 0,3% dari sebelumnya di level Rp13.903 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,41% dialami yuan .

Menurut ulasan CNBC Indonesia, rupiah memang rawan terkena aksi ambil untung lantaran sudah menguat cukup tajam, terapresiasi 1,38% terhadap dolar AS sepanjang satu bulan terakhir. Sejak awal kuartal IV 2020, mata uang Garuda sudah naik lebih dari 2%. Rupiah dinilai sudah kelewat ‘mahal’, sebaliknya greenback terlalu ‘murah’.

Selain itu, agaknya semakin cemas dengan perkembangan pandemi corona sehingga memilih bermain aman. Di Inggris, pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson memutuskan penerapan karantina wilayah (lockdown) berskala nasional mulai Senin (4/1) pekan ini. Varian baru COVID-19 yang merebak di negara tersebut membuat jumlah kasus melonjak, menjadi 2.654.783 kasus berdasarkan data WHO.

Dari pasar global, dolar AS masih belum benar-benar mendapat dukungan signifikan, meski kekhawatiran tentang melonjaknya kasus COVID-19 dan ketidakpastian tentang pemilihan putaran kedua AS di Georgia memicu permintaan untuk aset yang lebih aman. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,079 poin atau 0,09% ke level 89,790  pada pukul 14.52 WIB.

“Dolar AS akan terus diperdagangkan dengan sentimen risiko umum,” kata ahli strategi mata uang senior di Barclays Capital di Tokyo, Shinichiro Kadota, kepada Reuters. “Uang tersebut memang telah melihat beberapa pembelian di tengah peningkatan kasus COVID-19 dan menjelang pemilihan utama Senat AS, tetapi pada akhirnya sentimen risiko positif akan berlanjut tahun ini, dan dengan itu greenback terus melemah terhadap mata uang berisiko.”

Loading...