Selasa Sore, Rupiah Berbalik Menguat di Tengah Isu Tarif Trump

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

Rupiah ternyata mampu berbalik arah ke area hijau pada Selasa (18/9) sore meski keputusan Presiden Donald Trump mengenakan baru terhadap asal China membuat mayoritas tidak berdaya. Menurut paparan Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda menguat 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.855 per AS, meski awalnya dibuka melemah.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.908 per dolar AS, terdepresiasi 49 poin atau 0,33% dari sebelumnya di level Rp14.859 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% menghampiri mata uang Garuda.

Dari global, indeks dolar AS masih bergerak stabil pada hari Selasa sedangkan yuan China turun, ketika investor menantikan respon Beijing terhadap tarif baru AS terhadap barang-barang asal Negeri Tirai Bambu. Mata uang Paman Sam hanya melemah tipis 0,026 poin atau 0,03% ke level 94,470 pada pukul 10.57 WIB, sedangkan yuan China melemah 0,09% ke 6,8632 terhadap dolar AS pada pukul 11.07 WIB.

Dilansir Reuters, greenback telah menguat ke posisi 94,607 pada awal sesi setelah Senin (17/9) kemarin Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap barang impor asal China senilai 200 miliar dolar AS pada 24 September mendatang. Trump mengancam akan memberlakukan fase ketiga, yaitu tarif terhadap barang tambahan senilai 267 miliar dolar AS, jika China mengambil tindakan pembalasan.

“Meski demikian, reaksi spontan dolar AS telah mereda meskipun ada berita perdagangan terbaru,” tutur ahli strategi mata uang dan ekuitas di Bank of America Merrill Lynch di Tokyo, Shusuke Yamada, dilansir Reuters. “Tampaknya, pasar telah memperhitungkan sebelumnya tentang bagaimana pengumuman perdagangan itu.”

China pun dikabarkan sedang mengkaji rencana mengirim delegasi ke Washington untuk pembicaraan baru mengingat keputusan AS. South China Morning Post melaporkan kalau berdasarkan sumber pemerintah di Beijing menyatakan, perang dagang berkepanjangan antara negara ekonomi terbesar di dunia dapat menekan pertumbuhan global.

Loading...