Selasa Sore, Rupiah Berbalik Melemah Jelang Pilkada Serentak

rupiah - m.akurat.corupiah - m.akurat.co

harus berbalik melemah pada penutupan Selasa (26/6) ini jelang Pilkada serentak, ketika indeks AS justru bergerak lebih rendah akibat tensi perang dagang yang makin memanas. Menurut Index pukul 15.43 WIB, mata uang Garuda terpantau mengalami pelemahan sebesar 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.179 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melemah 73 poin atau 0,52% di posisi Rp14.159 per dolar AS pada akhir Senin (25/6) kemarin. Pagi tadi, mata uang NKRI sempat rebound dengan dibuka menguat 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.140 per dolar AS. Namun, setelah itu, spot harus kembali terjungkal ke teritori merah hingga tutup transaksi.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di level Rp14.163 per dolar AS, turun 58 poin atau 0,41% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.105 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga terdepresiasi versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,3% menghampiri yuan China.

“Rupiah memang diperkirakan masih akan melemah setelah data neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei di luar dugaan masih mengalami defisit cukup tinggi, yaitu 1,52 miliar dolar AS,” kata ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, dilansir Bisnis. “Kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Indonesia bisa sedikit menguatkan mata uang domestik.”

Dari , indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Selasa, seiring kekhawatiran tentang tensi perang dagang antara Paman Sam dengan mitra dagang, terutama China. Mata uang greenback terpantau melemah 0,079 poin atau 0,08% ke level 94,210 pada pukul 11.23 WIB, setelah kemarin sudah berakhir turun 0,231 poin atau 0,24%.

Diberitakan Reuters, Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, kemarin mengatakan bahwa pembatasan tidak akan spesifik untuk China, tetapi juga berlaku ‘ke semua negara yang mencoba mencuri teknologi AS’. Namun, penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menuturkan bahwa pembatasan yang diusulkan oleh pemerintah hanya akan menargetkan China, bukan negara lain.

“Sepertinya, masih ada beberapa pendapat yang berbeda di Gedung Putih pada pembatasan yang diusulkan untuk investasi asing,” tutur kepala riset pasar di JPMorgan Chase Bank di Tokyo, Tohru Sasaki. “Saya pikir, pasar saham dan mata uang cenderung tetap fokus pada berita utama terkait perdagangan hingga 6 Juli mendatang, ketika Trump mengumumkan langkah selanjutnya untuk China.”

Loading...