Dibuka Menguat, Rupiah Kembali Lemas di Selasa Pagi

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – tampaknya masih tertatih-tatih mengembalikan kekuatan pada perdagangan Selasa (24/9) pagi. Menurut pantauan Index, Garuda memang sempat menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.080 per dolar AS ketika membuka . Namun, spot berbalik melemah 8 poin atau 0,06% ke posisi Rp14.093 per dolar AS pada pukul 08.28 WIB.

Sementara itu, dari , indeks dolar AS terpantau masih mampu melanjutkan penguatan pada hari Selasa. Mata uang Paman Sam menguat 0,074 poin atau 0,08% ke level 98,673 pada pukul 08.20 WIB, setelah dibuka dengan kenaikan sebesar 0,048 poin atau 0,05% di posisi 98,647. Sebelumnya, sudah berakhir naik 0,086 poin atau 0,09% di level 98,599.

“Pergerakan rupiah diprediksi melemah akibat sentimen global yang membayangi,” ujar Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Kini, pelaku pasar mempertanyakan potensi tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan China, setelah Presiden Donald Trump menolak perjanjian perdagangan secara parsial dengan Negeri Tirai Bambu.”

Analis PT Monex Investindo Futures, Ahmad Yudiawan, menambahkan bahwa ketegangan di Timur Tengah juga masih menjadi sentimen negatif sehingga dapat menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, pasar khawatir ada keberlanjutan ketegangan di Timur Tengah, apalagi semakin banyaknya tuduhan terhadap Iran seiring serangan drone ke minyak Arab Saudi.

Sependapat, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kondisi terbaru antara AS dan China menimbulkan ketidakpastian baru. Kondisi ini memicu meningkatnya permintaan aset safe haven, seperti dolar AS, sehingga aset berisiko seperti rupiah pun ditinggalkan. Dari dalam negeri, potensi berlanjutnya demonstrasi yang berhubungan dengan beberapa revisi undang-undang juga bisa menambah sentimen negatif.

Dilaporkan CNBC Indonesia, hari ini dijadwalkan akan ada aksi massa di sejumlah kota di Indonesia. Mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil akan menyuarakan berbagai tuntutan seperti penolakan terhadap Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Pidana (RUU KUHP), penolakan terhadap RUU Pertanahan, pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kebakaran hutan dan lahan, penanganan ricuh Papua, dan sebagainya.

Loading...