Selasa Pagi, Rupiah Masih Betah di Zona Merah

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

belum bisa beranjak dari zona merah pada Selasa (12/2) pagi ini. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda membuka dengan melemah 46 poin atau 0,33% ke level Rp14.080 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 79 poin atau 0,57% di posisi Rp14.034 per AS pada akhir Senin (11/2) kemarin.

“Penyebab pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin didominasi penguatan yang dialami indeks dolar AS. Perang dagang AS-China yang belum selesai kembali membuat greenback perkasa,” ujar ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir Kontan. “Pelaku mengantisipasi negosiasi antara AS dan China. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, telah memberikan sinyal positif, tetapi belum ada kesepakatan perdagangan antara kedua belah pihak.”

Sementara, dari sisi internal, Josua menambahkan, CAD 2018 yang melebar menjadi 3,11 miliar dolar AS, atau setara 2,98% dari total produk bruto Indonesia, sebenarnya tidak terlalu berdampak terhadap rupiah sebab arus dana asing masih positif. Investor masih cenderung net buy di pasar saham dan obligasi dan tidak berlebihan menyikapi rupiah di tengah CAD yang kurang baik.

“Rupiah dalam area konsolidasi karena pasar China baru buka setelah libur seminggu karena Imlek,” sambung Josua. “Data yang dirilis Senin malam sampai dengan Selasa belum ada yang bisa berdampak signifikan untuk mengoreksi rupiah terlalu dalam. Mata uang Garuda mungkin akan berada di kisaran Rp13.950 hingga Rp14.050 per dolar AS.”

Sementara itu, ekonom Bank Central , David Sumual, menuturkan bahwa rupiah berpeluang menerima suntikan positif setelah pemerintah kembali menurunkan sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) pada akhir pekan kemarin. Penyesuaian BBM yang mengikuti pergerakan minyak dunia ini paling tidak bisa menstabilkan angka inflasi di bulan Februari.

“Di sisi lain, rupiah masih terancam tertekan oleh dampak melebarnya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia,” ujar David. “Tidak hanya itu, babak baru negosiasi dagang antara AS dan China juga tengah diwaspadai oleh para pelaku pasar. Pekan ini, negosiasi akan kembali berlangsung di tingkat yang lebih tinggi.”

Loading...