Selasa Pagi, Rupiah Kembali Menguat Lanjutkan Tren Positif

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Selasa (12/3) pagi. Menurut paparan Index pukul 08.15 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 40 poin atau 0,28% ke level Rp14.251 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 23 poin atau 0.16% di posisi Rp14.291 per AS pada akhir Senin (11/3) kemarin.

Dilansir Bisnis, penguatan rupiah yang terjadi kemarin seiring dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang kompak mengungguli . Kurs Asia kompak naik didorong spekulasi bahwa akan mempertahankan sikap akomodatif terkait kebijakan moneter mereka. Sebelumnya, pada Minggu (10/3), Gubernur , Jerome Powell, menuturkan bahwa dapat tetap ditahan ketika bank sentral melihat perkembangan kondisi di luar negeri.

Selain itu, nonfarm payroll AS bulan Februari 2019 yang cukup mengecewakan juga berkontribusi pada pelemahan dolar AS. Seperti diketahui, meski tingkat pengangguran turun dan upah per jam pekerja rata-rata naik, namun Negeri Paman Sam hanya mampu menciptakan 20.000 pekerjaan baru selama bulan kemarin, angka paling lemah sejak September 2017.

mencoba mencermati data yang mengecewakan dari laporan nonfarm payroll AS dan serangkaian data buruk yang berkelanjutan secara global, termasuk di Asia,” tutur pakar strategi mata uang di Australia & New Zealand Banking Group, Irene Cheung. “Pelemahan terbaru dolar AS menjadi tanda-tanda kehati-hatian dalam pengambilan risiko.”

Hampir senada, analis Monex Investindo Futures, Dini Nurhadi Yasyi, menilai bahwa rilis data nonfarm payroll AS tersebut berdampak besar terhadap dolar AS sehingga menjadi katalis rupiah untuk menguat. Namun, Dini menuturkan bahwa sentimen nonfarm payroll AS bersifat terbatas, sebab negara tersebut juga merilis data tingkat pengangguran yang positif.

“Sentimen yang perlu diwaspadai dalam waktu dekat adalah data penjualan ritel bulanan AS yang akan dirilis Selasa pagi waktu Indonesia,” ujar Dini. “Jika rilis tersebut menunjukkan hasil yang positif, maka berpotensi menekan pergerakan rupiah. Sebaliknya, bila ternyata laporan berbunyi negatif, maka rupiah bisa kembali menguat.”

Loading...