Selasa Pagi, Rupiah Dibuka Stagnan Jelang Putusan Bank of Japan

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

mengawali perdagangan Selasa (31/7) ini di posisi yang sama seperti penutupan Senin (30/7) kemarin jelang keputusan rapat Bank of Japan. Seperti dituturkan Index, Garuda membuka di posisi Rp14.415 per AS. Kemudian, pada pukul 08.26 WIB, spot terpantau melemah tipis 2 poin atau 0,01% menuju level Rp14.417 per AS.

“Penguatan rupiah yang terjadi pada Senin kemarin karena internal, yakni rencana pencabutan DMO (domestic market obligation) batubara yang diprediksi mengerek ekspor batubara Indonesia,” tutur Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Kontan. “Jika ekspor batubara naik, otomatis berpeluang kembali surplus, sehingga bisa menstabilkan rupiah jelang Pemilu 2019.”

Sementara itu, Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menimpali bahwa kesepakatan AS dan Uni Eropa terkait penghentian tarif impor barang juga turut menopang rupiah. Ini bisa memberi harapan terjadi juga dengan China. “Belum lagi dana asing masih gencar masuk ke pasar keuangan dalam negeri,” ujar David.

Saat ini, fokus pasar tertuju pada pertemuan sejumlah bank sentral utama yang berlangsung sepanjang pekan ini. Bank of Japan direncanakan memutuskan kebijakan mereka pada hari ini waktu setempat, sedangkan Federal Reserve akan menggelar meeting pada 31 Juli sampai 1 Agustus besok, dan Bank of England akan membuat keputusan kebijakan pada hari Kamis (2/8) waktu Inggris.

Dengan inflasi Jepang yang diperkirakan tetap dapat diredam, sejumlah analis memprediksi bahwa Bank of Japan akan bergabung dengan jajaran bank sentral utama untuk menormalisasi kebijakan atau melakukan pengetatan kuantitatif. Sementara, The Fed diperkirakan masih belum akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kali ini, sebaliknya Bank of England diyakini akan menaikkan suku bunga mereka pada Kamis lusa.

“Dari sudut pandang pasar, kami pikir hasil rapat Bank of Jalan akan lebih menarik, dengan fokus pada target yield obligasi 10-tahun dan pembelian aset,” ujar analis di Westpac. “Jika mereka membiarkan rate obligasi melayang lebih tinggi, hal tersebut kemungkinan akan mendukung bias bearish dalam obligasi global.”

Loading...