Sektor Pertambangan & Industri Perkebunan Lesu, Kredit Macet Perbankan Meningkat

OJKOtoritas Jasa Keuangan [foto:totozurianto]

Kursrupiah.net – Masalah baru kembali muncul menghantui perbankan. Setelah dipusingkan dengan masalah perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit, perbankan kini harus menghadapi rasio kredit bermasalah atau (Non-Performing Loan) yang terus menanjak jumlahnya.

Dibeberkan oleh Otoritas Keuangan (OJK) melalui yang mereka himpun per Maret , volume kredit NPL mencapai angka Rp 113,07 triliun atau sekitar 2,82% dari total kredit di kuartal pertama . Jumlah ini dari total NPL setahun sebelumnya (Maret ) yakni Rp 88,4 triliun atau 2,4%.

Ekonom Josua Pardede menyatakan, meningkatnya NPL perbankan tak lepas dari merosotnya daya beli masyarakat.

“Ini imbas dari masih rendahnya pertumbuhan kita. Akibatnya banyak debitur perbankan yang mengalami penurunan daya beli dan kesulitan membayar angsuran kredit,” ungkapnya, Senin (30/5).

Daya beli debitur korporasi, terutama di sektor pertambangan dan industri , seiring semakin rendahnya harga komoditi di pasar dunia.

“Ini memang terasa sekali ada peningkatan NPL di kedua sektor tersebut,” lanjut Josua.

Perbankan tak punya banyak pilihan selain menjadi lebih selektif menyalurkan kredit untuk membenahi peluang tumbuhnya kredit perbankan di level yang tinggi.

“Mereka tentu akan mengutamakan debitur eksisting dengan perjanjian kredit yang lebih baik daripada banyak mencari debitur baru dengan resiko lebih besar,” kata Josua.

Loading...