Sektor Jasa AS Membaik, Rupiah Melemah di Awal Dagang

www.globalindonesianvoices.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka melemah 2 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 13.000 per dolar pada , Kamis (6/10). Sedangkan dalam perdagangan kemarin, Rabu (5/10) mata uang garuda juga berakhir terdepresiasi ke angka Rp 12.998 per .

Para pelaku kini tengah terfokus pada rilis sektor jasa AS yang meningkat ke level tertinggi selama 11 bulan belakangan ini. Adanya perbaikan di sektor jasa tersebut telah memicu ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan Fed Rate pada akhir tahun ini.

“Hal ini menambah pandangan bahwa kenaikan suku bunga acuan AS kemungkinan besar terjadi pada Desember,” ujar Omer Esiner, kepala pasar Commonwealth Foreign Exchange.

Tetapi data sektor jasa tersebut juga diimbangi data tenaga kerja sektor swasta yang mengalami peningkatan hingga 154.000, level terendah dari bulan April dan lebih rendah dari prediksi para analis.

Research & Analyst Monex Investindo Futures, Agus Chandra menuturkan jika the mulai menguat karena Presiden The Fed negara bagian Richmond, Jeffrey Lacker mendesak agar suku bunga segera dinaikkan.

Di sisi lain, Perdana Menteri , Theresa May memberi pengumuman yang mengejutkan bahwa akan keluar dari Uni Eropa atau Brexit pada bulan Maret 2017. “Pelaku pasar berbondong-bondong memindahkan dananya ke ,” papar Agus.

Dari sisi domestik sendiri rupiah juga tak menemukan sentimen yang dapat mendorong pergerakannya. Tentu saja hal ini mengakibatkan kekuatan rupiah tergerus di spot exchange. “Hari ini (6/1) diperkirakan akan bergerak di kisaran 12.900-13.100 dengan kecenderungan melemah,” ujar Analis Teknikal Bahana Securities Muhammad Wafi.

Loading...