Sebulan Pasca Pilpres AS, Saham di Asia Makin Terpuruk

Hong Kong/ – Indeks Saham Asia300 terpuruk sebulan setelah Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS karena banyak yang meninggalkan negara berkembang meskipun masing-masing negara memiliki kondisi perekonomian yang berbeda-beda.

Indeks Nikkei Asia300 yang mengukur 324 ditutup pada angka 1.049, 68 pada Rabu (7/12). Indeks 2,4% dari nilai penutupan (8/11) lalu yang berada pada angka 1.075,69 sebelum hasil diumumkan. Perolehan semakin pada 21 November di 1.019,61. Angka berbasis awal 1.000 didasarkan pada per 1 Desember 2015.

Patokan indeks di Jepang dan AS secara signifikan membaik dengan rata-rata saham Nikkei dan Dow Jones Industrial naik masing-masing sebesar 7,7% dan 6,6%. Sementara itu negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara umumnya bernasib buruk, terseret turun dari indeks keseluruhan. Indonesia, Filipina, Malaysia, India, dan Vietnam indeksnya tenggelam lebih dari 5%, dengan Indonesia yang memimpin dengan penurunan 9,4%. Masing-masing negara menghadapi ketidakstabilan keuangan, politik, sosial, perekonomian, defisit anggaran atau inflasi yang tinggi.

Uang investor membanjiri aset Asia berisiko tinggi saat suku bunga rendah di seluruh dunia. Namun janji Trump untuk ekspansi fiskal telah membuat hasil US Treasury melonjak dan membuat pasar Asia terlihat kurang menarik. Mata uang, saham, dan obligasi mengalami tekanan secara simultan.

Di antara saham individu dengan performa terburuk dimiliki oleh perusahaan Telekomunikasi Indonesia dan perusahaan barang konsumsi India ITC yang tenggelam masing-masing 10% dan 11%. Dari sekian negara, yang masih bernasib baik adalah Singapura. Dari 22 saham Singapura, beberapa telah naik 20% sejak pemilu AS.

“Singapura adalah negara paling maju di Asia Tenggara, bahkan ketika uang investor melarikan diri dari negara-negara berkembang, ada kontras bahwa aman untuk membeli saham di sini,” ujar ekonom Sumitomo Mitsui Banking Corp Singapura.

Loading...