COVID-19 Masih Goyang Ekonomi, Seberapa Tinggi Harga Emas Akan Naik?

Emas batangan kecilEmas batangan kecil

JAKARTA – baru saja mencapai rekor tertinggi karena para investor yang khawatir tentang keadaan global akibat pandemi coronavirus menemukan kenyamanan di logam mulia. Dilansir TRT World, pada Senin (27/7) kemarin, spot sempat menembus 1.945 AS per ounce, rekor tertinggi sepanjang masa untuk harian, setelah naik selama tujuh pekan beruntun.

Lonjakan logam ini terjadi imbas melemahnya nilai tukar dolar AS, ketegangan perdagangan antara AS-China, serta suku bunga rendah yang mendekati nol, yang memberikan investor alasan untuk menemukan aset yang menghargai nilainya. Sementara emas tidak menghasilkan bunga seperti instrumen lainnya semacam obligasi, nilai logam tersebut juga cenderung meningkat pada saat terjadi gejolak.

Pandemi virus corona, yang sudah menghancurkan ekonomi di seluruh dunia, dan menewaskan lebih dari 648.000 orang, telah memaksa untuk memangkas suku bunga. Triliun dolar AS dikucurkan ke pasar sebagai bagian dari program stimulus. Ketika begitu banyak membanjiri pasar, selalu ada kekhawatiran bahwa itu akan memicu inflasi dan mengakibatkan kurs mata jatuh. Dalam keadaan seperti itu, emas menjadi lindung nilai yang baik.

Terakhir kali harga emas setinggi ini terjadi pada 2011. Lonjakan harga tersebut juga mengikuti kondisi ekonomi global yang buruk setelah resesi 2008. Pada periode tersebut, pemerintah dan bank sentral memompa banyak uang ke pasar. Analis di Bank of America pada bulan April kemarin bahkan meramalkan bahwa dalam 18 bulan, harganya bisa mencapai 3.000 dolar AS per ounce, hasil dari mata uang yang selalu terdevaluasi karena banyaknya bank sentral yang mencetak uang.

Selama beberapa bulan terakhir di masa pandemi -19, harga emas telah dipengaruhi prospek ekonomi dan berita yang keluar dari AS. Pada awal Juni lalu, penggemar emas kecewa ketika harga jatuh tiba-tiba, terutama karena laporan peningkatan angka pengangguran AS. Sekarang, ketegangan perdagangan antara AS dan China sangat membebani pikiran investor, setelah kedua belah pihak memaksa konsulat masing-masing agar ditutup.

“Secara historis, harga emas telah didorong oleh rumah tangga di negara-negara seperti India, pembeli logam mulia terbesar kedua di dunia, yang menghabiskan lebih dari 28 miliar dolar AS untuk mengimpor emas sepanjang tahun lalu,” tulis TRT World. “Rumah tangga India menghemat sekitar 30 persen dari pendapatan mereka. Sebagian besar dari itu digunakan untuk membeli emas. Bagi banyak orang, itu bahkan bukan pengeluaran, tetapi hanya investasi untuk melestarikan kekayaan mereka, termasuk tradisi pernikahan.”

Keyakinan bahwa harga emas akan terus naik adalah inti dari minat warga India terhadap logam tersebut. Meski demikian, pandemi virus corona, bagaimanapun, telah mengurangi permintaannya ke level terendah dalam 30 tahun. Antara April 2019 hingga Maret 2020, India menghabiskan 28 miliar dolar AS untuk mengimpor emas, turun 14 persen dari 32,9 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, lonjakan harga saat ini didorong oleh investasi yang masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa yang didukung emas (ETF atau exchange traded funds). Pada paruh pertama tahun ini, lebih dari 39 miliar dolar AS telah masuk ke ETF emas. “Ini secara signifikan di atas tingkat tertinggi arus masuk tahunan, baik dalam hal tonase (646 ton pada tahun 2009) maupun nilai dolar AS (US 23 miliar dolar AS pada 2016),” menurut World Gold Council.

Loading...