Sambut Lebaran, Rupiah Berakhir Menguat

Meski pasar sedang menjalani libur panjang jelang , namun mampu bergerak menguat di saat indeks AS sedang dalam tren negatif karena minim sentimen pendukung. Menurut Index pukul 15.55 WIB, mata uang Garuda memungkasi transaksi akhir pekan (23/6) ini dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.307 per AS.

Rupiah sebenarnya mengawali dengan melemah 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.333 per dolar AS. Selepas istirahat siang atau pukul 13.29 WIB, mata uang Garuda berbalik rebound 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.319 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.46 WIB, spot makin nyaman di zona hijau setelah 19 poin atau 0,14% ke posisi Rp13.305 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS masih belum bisa lepas dari tren pelemahan karena para investor menanti indikator inflasi yang rencananya baru diumumkan pekan depan. Setelah dibuka dengan pelemahan sebesar 0,040 poin atau 0,04% ke level 97,553, mata uang Paman Sam kembali terdepresiasi 0,105 poin atau 0,11% ke posisi 97,488 pada pukul 09.24 WIB.

Selain itu, tertahannya laju indeks dolar AS juga dipengaruhi laporan klaim tunjangan pengangguran warga AS yang meningkat. Menurut Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (22/6) waktu setempat, klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara meningkat 3.000 menjadi 241.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 17 Juni.

Sebelumnya, indeks dolar AS sempat mencapai puncaknya ke level tertinggi satu bulan di posisi 97,871 setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada pekan lalu dan membuka kemungkinan pengetatan moneter lanjutan di akhir tahun. Namun, sejak saat itu, greenback seolah tertahan pada rentang pergerakan yang ketat karena tidak adanya katalis penggerak indeks.

“Sementara pasar berhasil memanfaatkan sentimen pada pekan lalu, sebenarnya tidak banyak faktor bagi dolar AS untuk bergerak dalam pekan ini tanpa adanya laporan data indikator utama,” jelas analis senior Barclays, Shin Kadota, kepada Reuters. “Namun, inflasi kemungkinan akan menjadi tema yang menggerakkan mata uang pada minggu depan seiring laporan serangkaian data , mengingat kemerosotan harga minyak mentah minggu ini telah mengaburkan prospek inflasi AS.”

Loading...