Saingi AS di Laut China Selatan, China Bangun Kapal Induk Baru

TOKYO – Pada tanggal 20 Desember 2016 kemarin, China mengirimkan mereka yang bernama Liaoning ke yang ditujukan untuk mengimbangi kekuatan AS di perairan sengketa tersebut. Sayangnya, banyak ahli yang berpendapat bahwa kapal induk China belum cukup mampu mengimbangi armada AS, salah satunya karena belum didukung perlengkapan untuk meluncurkan pesawat. Karena itu, kini Negeri Tirai Bambu dikabarkan sedang getol memproduksi kapal induk yang lebih canggih.

Sebuah perusahaan asal China mengaku telah membeli pesawat Soviet yang telah pensiun untuk dipelajari oleh militer negara tersebut, termasuk tentang konstruksi kapal. China juga telah mengakuisisi pesawat ‘pensiunan’ lain dari Uni Soviet, Minsk, untuk dilakukan studi melalui perusahaan . Setelah diteliti, Minsk dibuka untuk umum di Shenzhen, Provinsi Guangdong.

Bertolak dari studi tersebut, China saat ini dikabarkan sedang membangun dua kapal induk homegrown, dengan salah satu di antaranya adalah model kedua dari Liaoning, yang diharapkan dapat meluncur dalam waktu dekat. Jika kapal induk ini jadi beroperasi di Barat dan Laut China Selatan, situasi keamanan di wilayah tersebut bisa berubah karena kesenjangan antara militer AS dan China semakin menipis.

Selain persoalan Laut China Selatan, ketegangan antara AS dengan China juga merembet pada bidang ekonomi usai Presiden AS yang baru, Donald Trump, mengecam negara tersebut karena dianggap telah memanipulasi mata uangnya, yuan. Trump juga telah bersumpah untuk memberikan prioritas utama kepada perlindungan pekerjaan AS.

anti-China yang diusung Trump membuat perusahaan asal China memiliki ‘alasan yang legal’ untuk mentransfer dana keluar dari negara mereka guna meningkatkan kepemilikan mereka atas aset dalam mata safe haven, yaitu AS. Akibatnya, Negeri Tirai Bambu langsung turun tajam menjadi hanya 3 triliun AS pada akhir Desember 2016, jauh dibandingkan angka 4 triliun pada akhir Juni 2014.

Di awal tahun ini, pemerintah China telah memberlakukan kontrol ketat di bursa mata uang asing, sekaligus menandai serangkaian langkah-langkah untuk mengatasi masalah arus modal keluar yang sudah mencapai tahap serius. Jika sebelumnya masyarakat boleh mengonversikan hingga 50 ribu dolar AS ke yuan, maka aturan baru menyebutkan bahwa mereka harus berjanji tidak menggunakan uang tersebut untuk membeli , sekuritas, asuransi jiwa, dan beberapa produk lain di luar negeri ketika mengajukan permohonan ke bank-bank besar.

Loading...