Saham Taksi Express Dibekukan, Go-Jek dan Grab ‘Tekan’ Armada Konvensional

Taksi Express - magazine.job-like.comTaksi Express - magazine.job-like.com

JAKARTA – Sejumlah memang menghadapi pasar yang lebih sulit sejak kemunculan pemesanan atau sewa mobil secara online, semisal milik Go-Jek dan Grab. Salah satu armada konvensional, Express, bahkan harus menerima kenyataan saham mereka dibekukan Efek Indonesia (BEI) karena telat membayar bunga obligasi, demikian laporan yang dikutip dari Nikkei.

Express, yang berada di bawah naungan PT Express Transindo Utama, memiliki sekitar 9.000 unit kendaraan dan memegang sekitar 15 persen pasar Tanah Air. Perusahaan ini terdaftar di BEI sejak tahun 2012 dengan kode ticker TAXI. BEI terpaksa menghentikan perdagangan saham Express pada 25 Juni 2018 karena kegagalan untuk membayar bunga obligasi yang mereka luncurkan pada tahun 2014. Itu merupakan penangguhan kedua dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Permintaan untuk taksi di Indonesia sebenarnya telah meningkat selama satu dekade terakhir, yang masih kekurangan publik. Di masa lalu, tarif taksi sering dinegosiasikan di tempat, tetapi Express dan pemimpin pasar, Blue Bird, memperkenalkan sistem berbasis meteran dan dengan cepat menjadi operator taksi terbesar di negara ini.

Namun, air pasang berubah pada tahun 2015, ketika startup lokal, Go-Jek, mulai menawarkan tarif yang lebih rendah. Pada tahun 2016, ketika penetrasi ponsel cerdas di Tanah Air mencapai 50 persen, perjalanan taksi online menjadi pilihan paling bagi orang Indonesia. Semakin banyak pelanggan yang beralih ke Go-Jek dan layanan taksi online lainnya. Reputasi taksi konvensional semakin buruk, dengan kurangnya investasi dalam armada seiring keluhan ‘mobil kotor’ dari pelanggan.

Dalam upaya untuk merangkul digitalisasi yang telah mengubah industri taksi, Express sempat bermitra dengan penyedia layanan berkendara terbesar di dunia, Uber Technologies, pada bulan Desember 2016. Namun, rencana itu gagal karena Uber menjual operasi Asia Tenggara mereka ke Grab yang berbasis di Singapura pada awal tahun 2018. Blue Bird, sebaliknya, bermitra dengan Go-Jek dan mampu menghasilkan keuntungan kecil.

Meskipun melakukan restrukturisasi tenaga kerja dan aset lainnya, Express masih membukukan kerugian untuk tiga bulan pertama pada tahun ini. ‘Gangguan’ dari teknologi dalam industri sekarang telah membayangi perusahaan di masa depan. “Penghasilan harian saya turun lebih dari 40 persen,” kata seorang pengemudi Express.

Loading...