Saham Global Mulai Stabil, Rupiah Malah Berakhir Loyo

ternyata tidak mampu memanfaatkan pelemahan yang dialami AS ketika mulai menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI harus menyelesaikan Selasa (13/2) ini dengan penurunan sebesar 12 poin atau 0,09% menuju level Rp13.651 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir melemah 11 poin atau 0,08% di posisi Rp13.639 per dolar AS pada penutupan Senin (12/2) kemarin. Mata uang Garuda sempat rebound dengan menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.631 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Setelah bergerak fluktuatif, spot akhirnya harus menyelesaikan transaksi di teritori merah.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak turun pada perdagangan Selasa, ketika pasar saham dunia menunjukkan tanda-tanda stabilitas, yang menghidupkan kembali risk appetite, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan tajam pada minggu lalu. Mata uang Paman Sam tersebut terdepresiasi tipis 0,054 poin atau 0,06% ke level 90,154 pada pukul 08.32 WIB.

Seperti dikutip Reuters, pasar saham global melakukan rebound yang kuat sejak aksi jual yang signifikan yang dimulai akhir Januari karena kekhawatiran tentang kenaikan tekanan inflasi. Inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong Federal Reserve untuk memperketat kebijakannya lebih cepat dari perkiraan. Jika The Fed tidak bertindak cukup cepat, hal itu bisa mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang. Dalam kedua skenario tersebut, para pedagang khawatir bahwa pertumbuhan AS bisa terhambat.

Ada beberapa indikasi yang bisa dijadikan patokan bahwa kekhawatiran tersebut mulai mereda, dengan saham Wall Street rebound kuat pada hari Senin dan MSCI All-country World Index meningkat 1,2%. Imbal hasil obligasi 10 tahun AS mencapai level tertinggi empat tahun di 2,902%, sedangkan yield 30 tahun naik ke level tertinggi 11 bulan di posisi 3,199%.

“Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mengangkat biaya pinjaman hipotek dan cenderung mendinginkan ekonomi,” tutur kepala analis valuta asing di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Minori Uchida, seperti dilansir Reuters. “Meski demikian, dolar AS kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan terhadap yen .”

Loading...