Transaksi Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

JAKARTA – Rupiah mampu menjaga posisi di teritori hijau pada Jumat (18/10) sore ketika indeks AS masih mencoba mengembalikan kekuatan setelah sempat terpuruk imbas dari kesepakatan dan perang AS-. Menurut Bloomberg Index pukul 15.50 WIB, mata uang Garuda menguat 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.148 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.140 per dolar AS, terapresiasi 32 poin atau 0,22% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.172 per dolar AS. Di saat yang hampir berbarengan, mata uang kompak mengangkangi greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,54% dialami won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS masih berupaya untuk mengembalikan kekuatan pada akhir pekan, setelah kekhawatiran tentang AS yang lemah sempat membuat greenback bergerak lebih rendah terhadap mata uang lainnya. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,063 poin atau 0,06% ke level 97,544 pada pukul 15.33 WIB.

Dilansir dari Reuters, dua ekonomi terbesar di dunia telah memberlakukan tarif pada barang-barang satu sama lain dalam perselisihan mengenai kebijakan perdagangan. Hal tersebut berdampak pada ekonomi kedua , dengan pertumbuhan China dilaporkan melambat lebih dari yang diperkirakan menjadi 6,0% year-on-year pada kuartal ketiga 2019.

Ini adalah laju paling lemah setidaknya dalam 27,5 tahun karena permintaan di dalam negeri dan luar negeri yang goyah di tengah perselisihan dagang dengan AS yang tidak kunjung berakhir. Data hari Jumat ini menandai hilangnya momentum lebih lanjut untuk ekonomi Negeri Panda dari pertumbuhan 6,2% pada kuartal kedua kemarin.

Di belahan Eropa, poundsterling diperdagangkan mendekati level tertinggi lima bulan terhadap dolar AS dan euro setelah perdana menteri Inggris, Boris Johnson, dan para pemimpin Uni Eropa menyetujui kesepakatan baru bagi Inggris untuk keluar dari blok tersebut. Kenaikan poundsterling membantu mendorong greenback ke level terendah lima bulan terhadap euro dan level terendah tiga minggu terhadap franc Swiss.

Namun, bantuan awal untuk mengamankan kesepakatan Brexit yang telah lama ditunggu-tunggu bisa saja kandas, karena perdana menteri masih perlu mengajukan perjanjian itu kepada anggota parlemen pada hari Sabtu (19/10). Begitu Inggris meninggalkan Uni Eropa, pertumbuhan ekonominya diperkirakan akan melambat, yang kemungkinan akan menjadi negatif bagi poundsterling dalam jangka panjang.

“Dengan asumsi kami tidak ada rintangan di parlemen, poundsterling memiliki ruang untuk naik lebih lanjut,” kata manajer umum departemen penelitian di Gaitame.com Research Institute di Tokyo, Takuya Kanda. “Namun, setelah itu, orang akan mulai mempertanyakan apakah ini benar-benar baik untuk ekonomi Inggris, dan kenaikan lebih lanjut dalam poundsterling bisa menjadi sulit.”

Loading...