Masih Minim Energi, Rupiah Tetap Melemah di Selasa Pagi

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

JAKARTA – masih belum memiliki cukup energi untuk bisa bangkit ke zona hijau pada perdagangan Selasa (23/6) pagi. Menurut catatan Bloomberg Index, Garuda terpantau melemah 51 poin atau 0,36% ke level Rp14.200 per AS pada pukul 09.11 WIB. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 49 poin atau 0,35% di posisi Rp14.149 per AS.

sentimen sangat memengaruhi pergerakan rupiah sehingga membuatnya terkulai pada perdagangan kemarin,” ulas Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Rupiah kemungkinan akan kembali terkoreksi di awal perdagangan, namun dapat ditutup menguat tipis atau stagnan di level Rp14.130 hingga Rp14.200 per dolar AS.”

Ibrahim menjelaskan, kasus infeksi (COVID-19) di berbagai masih terjadi di saat upaya pelonggaran lockdown dimulai. Risiko gelombang kedua COVID-19 dapat memperburuk sentimen pelaku terhadap pertumbuhan ekonomi global. “Karena itu, pergerakan rupiah masih akan terpapar sentimen negatif dari faktor global,” sambung Ibrahim.

Sedikit berbeda, analisis yang dilakukan CNBC mengatakan bahwa pada perdagangan hari ini, rupiah mungkin siap untuk melakukan balas dendam, melihat sentimen mood pasar yang cukup bagus. Lonjakan kasus pandemi COVID-19 di China, Australia, Jerman, dan AS memang membuat rupiah terpukul. Namun, sentimen pelaku pasar nyatanya tidak terlalu buruk, karena bursa saham AS berhasil menguat.

“Penguatan kiblat bursa saham dunia ini tentunya memberikan angin segar ke pasar Asia pagi ini. Sentimen pelaku pasar yang bagus akan menjadi modal bagi rupiah untuk kembali menguat,” catat CNBC Indonesia. “Secara teknikal, rupiah berada dalam fase konsolidasi sejak dua pekan lalu, dan kembali berada di atas level psikologis Rp14.000 per dolar AS.”

Sejauh ini , dampak pagebluk (wabah penyakit) terhadap perekonomian Indonesia memang tidak separah beberapa negara lain, terutama di . Namun, pemerintah tetap pesimistis dan merevisi target pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 2020. Hal ini tersebut lantas membuat pelaku pasar bersikap apatis.

Loading...