Rupiah Terdepresiasi, Perbankan Tetap Solid

JAKARTA–Nilai tukar rupiah yang hingga Rp 13.000 per ternyata belum membuat dunia perbankan di tanah air kelabakan. Hal itu didasarkan pada hasil survei yang dilakukan Otoritas Keuangan () yang menunjukkan bahwa perbankan di masih cukup solid untuk menghadapi depresiasi terburuk sejak krisis moneter pada 1998.

“Berdasar stress test yang dilakukan OJK, perbankan di Indonesia masih solid meski nilai tukar Rp 14.000 per USD sekalipun. Artinya, modal dan risiko perbankan masih memenuhi ketentuan OJK,” kata Deputi Komisioner OJK Irwan Lubis di Jakarta kemarin (12/3).

kursdolar-rupiahIrwan menuturkan bahwa memang ada beberapa bank yang mungkin mengalami kesulitan bila rupiah terus terdepresiasi hingga Rp 15.000 per USD. Bila hal itu terjadi, kesulitan modal tersebut belum terlalu jauh. “Kalaupun rupiah terdepresiasi hingga Rp 15.000 per USD, memang akan ada satu sampai lima bank yang kesulitan modal.

Tapi, kesulitannya tidak terlalu banyak,” jelasnya. Irwan berharap, nilai tukar rupiah tidak terlalu lama terdepresiasi dan jauh melemah sehingga tidak banyak perbankan yang mengalami kesulitan. “Kita berharap, depresiasi rupiah ini tidak terlalu lama sehingga perbankan tidak sampai kesulitan dana,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank OJK Firdaus Djaelani mengatakan bahwa terdepresiasinya rupiah berdampak banyak pada pembiayaan. Sebab, merekalah yang banyak pinjam dalam bentuk mata uang asing (). “OJK menilai yang mengalami dampak pelemahan nilai tukar saat ini adalah perusahaan pembiayaan karena mereka memiliki pinjaman yang tinggi terhadap ,” papar Firdaus.

Berdasar OJK, perusahaan pembiayaan melakukan pinjaman langsung melalui penerbitan obligasi sebesar Rp 307,24 triliun. Di antaranya, terdapat pinjaman valas sebesar USD 6,73 miliar atau setara Rp 84,96 triliun dan pinjaman yen Jepang setara Rp 29,65 triliun. (mna/c1/jay/jpnn)

Loading...