Selasa Sore, Rupiah Stagnan Jelang Rapat Federal Reserve

Rupiah - www.seputarforex.comRupiah - www.seputarforex.com

JAKARTA – Setelah perkasa sepanjang sesi, rupiah ternyata harus puas menutup Selasa (28/7) sore di posisi persis sesi sebelumnya, ketika fokus tertuju pada rapat yang akan berlangsung selama dua hari hingga Kamis (30/7) pagi WIB. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir stagnan di level Rp14.535 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pagi tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.543 per dolar AS, menguat 62 poin atau 0,42% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.605 per dolar AS. Di saat bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,43% dialami dolar Taiwan.

“Mata uang rupiah ditopang oleh langkah yang memacu pemulihan ekonomi sekaligus penanganan COVID-19,” ulas Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Di samping fokus ke vaksin, kembali menggelontorkan stimulus sebanyak mungkin sampai akhir tahun 2020 dan diharapkan daya beli masyarakat akan tetap berjalan, sehingga ekonomi kembali berjalan dan stabil.”

Dari global, indeks dolar AS berusaha bangkit pada hari Selasa, setelah merosot ke level terendah dua tahun, karena investor khawatir tentang dampak coronavirus terhadap ekonomi AS sambil menunggu prospek terbaru dari Federal Reserve dan berlalunya paket penyelamatan fiskal baru. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,181 poin atau 0,19% ke level 93,849 pada pukul 11.12 WIB.

Disalin dari Reuters, penurunan mata uang AS telah menempatkannya di bawah emas dan membuat yen berdiri di dekat posisi tertinggi dalam empat bulan, sedangkan euro tepat di bawah level tertinggi 22 bulan dan dolar Selandia Baru mendekati level terkuat sejak Januari. Greenback belum lepas dari tekanan menjelang pertemuan Federal Reserve yang akan berlangsung Selasa malam, dengan yang memunculkan spekulasi kemungkinan pergeseran dalam penekanan kebijakan.

“Para pejabat di The Fed telah mulai berbicara secara teratur tentang membiarkan inflasi naik di atas target sedikit sebelum pengetatan,” papar ekonom pasar Capital Economics, Oliver Jones. “Dengan semua ini dalam pikiran, kita tidak akan terkejut melihat dolar AS jatuh, karena toleransi yang lebih besar untuk inflasi menyisakan ruang untuk lebih banyak tekanan pada imbal hasil AS, mengurangi daya tarik utama greenback.”

Loading...