Rupiah Stagnan di Masa Pilkada Serentak

Pilkada untuk 265 daerah tingkat I dan II, yang digelar serentak di seluruh Indonesia pada Rabu (9/12) ini, ternyata tidak membawa dampak yang signifikan terhadap laju . Kurs bergerak stabil di kisaran Rp13.808 per dolar AS.

Ahli ekonomi dari Bank Permata, Jousa Pardede, mengungkapkan, masih dipengaruhi kondisi ekonomi . Sementara, di dalam negeri belum ada sentimen yang mampu mendongkrak nilai rupiah, termasuk Pilkada.

“Saya kira Pilkada kurang berdampak besar,” ujarnya. “Rupiah memang berjalan stagnan dua hari terakhir, tetapi trennya melemah.”

Ditambahkannya, pergerakan rupiah masih dihantui isu kenaikan tingkat acuan bank sentral Amerika Serikat. Di samping itu, perekonomian Tiongkok yang menunjukkan pelemahan juga dapat memengaruhi laju rupiah.

Pendapat serupa diutarakan Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo. Menurutnya, gelaran Pilkada tidak memiliki efek langsung terhadap volume dan nilai di bursa saham. Ia menilai, sentimen makroekonomi global saat ini lebih berpengaruh.

“Saya kira Pilkada tidak terlalu berpengaruh,” jelasnya. “Buktinya, sekarang saja indeks malah melemah.”
Ditambahkannya, efek Pilkada kemungkinan hanya berpengaruh terhadap sektor tertentu dalam bursa saham. Sektor tersebut tentunya yang berkaitan langsung dengan kampanye Pilkada yaitu consumer (barang konsumsi), seperti rokok, makanan minuman, dan juga sektor ritel.

Sementara itu, berkaitan dengan Pilkada, kegiatan operasional ditiadakan. Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyatakan hal serupa pada hari pemungutan suara.

Di sisi lain, kurs dolar AS diperdagangkan bervariasi terhadap utama lainnya di New York pada Selasa (Rabu pagi WIB), setelah membukukan kenaikan tajam di sesi sebelumnya. Indeks dolar, yang mengukur terhadap enam utama, turun 0,20 persen menjadi 98,462 pada akhir Selasa (8/12).

Loading...