Rupiah Semakin Mantap di Penghujung 2014

Ilustrasi_Rupiah_NaikBeberapa Bank lokal di Jakarta pada sesi pembukaan hari ini (Selasa 30/12) memperdagangkan Rupiah di titik Rp 12.430 per , atau lebih tinggi 5 poin dari hari sebelumnya yaitu Rp 12.435 per .

Reza Priyambada selaku Analis Woori Korindo Securities Indonesia menyampaikan bahwa Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika cenderung di akhir tahun . “Kinerja Rupiah semakin mendekati akhir tahun di tengah kondisi Dolar Amerika yang tetap kuat di global,” tutur Reza. Reza juga menambahkan bahwa keputusan Pemerintah untuk meninjau ulang bakar bersubsidi, yang semula telah dinaikkan pada pertengahan bulan November telah menciptakan sentimen positif di pasar domestik, yang berdampak pada penguatan Rupiah. Hal ini diucapkan Reza sehubungan dengan ada kabar bahwa Pemerintah Indonesia berencana untuk mengatur kembali BBM bersubsidi serta mengumumkan kebijakan baru dalam waktu dekat. Hal inilah yang telah membawa sentimen positif pada Rupiah.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa penguatan Rupiah terhadap Dolar akan tetap dibayang-bayangi oleh kondisi pemulihan ekonomi di Amerika Serikat. Analis Woori Korindo Securities Indonesia ini juga mengatakan bahwa Amerika Serikat dalam waktu dekat akan merilis beberapa data ekonomi yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan konsumen dan klaim tingkat kerja ke arah positif. Reza-pun menambahkan bahwa bagaimanapun, apresiasi mata uang domestik masih akan terbatas dikarenakan Amerika Serikat akan terus merekam data makroekonomi yang lebih baik dari hari ke hari, yang menunjukkan bahwa ekonomi Amerika memang sedang membaik. “Sentimen positif bagi perekonomian Amerika Serikat di pasar global diperkirakan akan terus berlanjut. Kita perlu mengantisipasi depresiasi lebih lanjut dari Rupiah,” ucap Reza.

Faktor eksternal juga datang dari luar negeri. Pakar Ekonomi Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, mengatakan bahwa sentimen eksternal lain yang mungkin menghambat mata uang domestik di apresiasi adalah meningkatnya ketegangan politik yang terjadi di Yunani akhir-akhir ini. “Ketegangan di Yunani tampaknya akan menciptakan sentimen negatif di pasar negara berkembang termasuk Indonesia,” kata Rangga.

Loading...