Rupiah Semakin Mantap di Penghujung 2014

Ilustrasi_Rupiah_NaikBeberapa Bank lokal di Jakarta pada sesi pembukaan hari ini (Selasa 30/12) memperdagangkan Rupiah di titik Rp 12.430 per Amerika, atau lebih tinggi 5 poin dari hari sebelumnya yaitu Rp 12.435 per Amerika.

Reza Priyambada selaku Analis Woori Korindo Securities menyampaikan bahwa terhadap Dolar Amerika cenderung menguat di akhir tahun . “Kinerja Rupiah semakin membaik mendekati akhir tahun di tengah kondisi Dolar Amerika yang tetap kuat di pasar global,” tutur Reza. Reza juga menambahkan bahwa keputusan Pemerintah untuk meninjau ulang bahan bakar bersubsidi, yang semula telah dinaikkan pada pertengahan bulan telah menciptakan sentimen positif di pasar domestik, yang berdampak pada penguatan Rupiah. Hal ini diucapkan Reza sehubungan dengan ada kabar bahwa Pemerintah Indonesia berencana untuk mengatur kembali harga bersubsidi serta mengumumkan kebijakan baru dalam waktu dekat. Hal inilah yang telah membawa sentimen positif pada Rupiah.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa penguatan Rupiah terhadap Dolar akan tetap dibayang-bayangi oleh kondisi pemulihan ekonomi di Amerika Serikat. Analis Woori Korindo Securities Indonesia ini juga mengatakan bahwa Amerika Serikat dalam waktu dekat akan merilis beberapa data ekonomi yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan konsumen dan klaim tingkat kerja ke arah positif. Reza-pun menambahkan bahwa bagaimanapun, domestik masih akan terbatas dikarenakan Amerika Serikat akan terus merekam data makroekonomi yang lebih baik dari hari ke hari, yang menunjukkan bahwa ekonomi Amerika memang sedang membaik. “Sentimen positif bagi perekonomian Amerika Serikat di pasar global diperkirakan akan terus berlanjut. Kita perlu mengantisipasi depresiasi lebih lanjut dari Rupiah,” ucap Reza.

Faktor eksternal juga datang dari luar negeri. Pakar Ekonomi Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, mengatakan bahwa sentimen eksternal lain yang mungkin menghambat mata uang domestik di apresiasi adalah meningkatnya ketegangan yang terjadi di Yunani akhir-akhir ini. “Ketegangan di Yunani tampaknya akan menciptakan sentimen negatif di pasar negara berkembang termasuk Indonesia,” kata Rangga.

Loading...