Rupiah Rebound Meski Dolar AS Tengah Diburu Sebagai Aset Safe Haven

Rupiah - jateng.tribunnews.comRupiah - jateng.tribunnews.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 14.457,5 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (3/1). Kemarin, Rabu (2/1), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 68 poin atau 0,47 persen ke level Rp 14.458 per USD.

Indeks dolar yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,71 persen menjadi 96,8145 lantaran rilis yang lemah menimbulkan kekhawatiran atas , sehingga para tertarik untuk melirik aset safe haven seperti dolar AS.

Seperti dilansir Xinhua, usai memperhitungkan faktor musiman, IHS Markit Eurozone Manufacturing Management Index (PMI) ada di level 51,4 pada Desember 2018, angka tersebut lebih rendah dari perolehan November 2018 sebesar 51,8. Walaupun data tersebut menunjukkan masih adanya pertumbuhan ekspansi bisnis, tetapi angka PMI terbaru ini merupakan level terendah sejak Februari 2016.

Kemudian data manufaktur yang lemah dari Spanyol, Perancis, Italia, dan Jerman telah membuat euro turun 1,1 persen pada kecepatan untuk hari terburuknya terhadap dolar AS dalam lebih dari 6 bulan. “Data keluar dari kawasan euro pagi ini umumnya di sisi yang lebih turun,” ujar Ahli Strategi FX Credit Agricole Eric Viloria, seperti dilansir Reuters melalui Okezone.

Aktivitas pabrik melemah di sebagian besar wilayah Eropa dan pada bulan Desember 2018 lalu saat terjadinya perang dagang antara AS dengan China, hingga memicu perlambatan permintaan di sejumlah negara. “Data yang loyo dan dolar AS yang secara luas lebih kuat memberikan tekanan pada mata uang tunggal,” papar Viloria.

Sementara itu, menurut analis Monex Investindo Futures Faisyal, sentimen pelemahan ekonomi global tahun ini telah meningkatkan kekhawatiran pasar. Terlebih karena kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dengan China sampai saat ini masih belum menemui titik terang. “Pemerintah AS sampai saat ini juga masih shutdown,” ujar Faisyal pada Rabu kemarin, seperti dilansir Kontan. Hal itu juga yang memperkuat spekulasi terkait melemahnya kondisi ekonomi global.

Loading...