Rupiah Rebound ke Level Rp 14.104/USD Berkat Cadangan Devisa Surplus

Rupiah - katadata.co.idRupiah - katadata.co.id

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 44 poin atau 0,31 persen ke level Rp 14.104 per dolar AS di awal pagi hari ini, Rabu (9/1). Kemarin, Selasa (8/1), Garuda ditutup anjlok sebesar 65 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp 14.148 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,25 persen menjadi 95,9044. USD berhasil menguat usai sebelumnya menurun tajam lantaran pound sterling dan euro melemah akibat ketidakpastian Brexit dan prospek ekonomi yang suram.

Nilai komparatif euro terhadap greenback memperpanjang kerugiannya melebihi 0,31 persen pada Selasa (8/1), usai anggota parlemen Inggris mulai memperdebatkan proposal Brexit yang diajukan oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May. May masih berjuang untuk memenangkan lawan-lawan tangguhnya di parlemen, lantaran parlemen Inggris dijadwalkan bakal memberi suara terkait rencana Brexit pada 15 Januari 2019 mendatang.

Seperti dilansir Xinhua, euro juga melemah akibat data output industri yang lambat dari Jerman, ekonomi terbesar Eropa, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan adanya perlambatan ekonomi di zona euro. Berdasarkan data Kantor Statistik Federal Jerman pada Selasa (8/1), output industri mengalami penurunan sebesar 1,9 persen pada bulan November 2018, gagal memenuhi harapan untuk kenaikan sebesar 0,3 persen dan mencatatkan penurunan untuk 3 bulan berturut-turut.

Sementara itu, menurut Analis Kapital Investama Nizar Hilmy, saat ini rupiah masih berada dalam tren bullish. Rupiah memang diharapkan bisa menguat karena pada Desember 2018 naik. Menurut laporan Indonesia (BI), cadangan devisa bertambah jadi USD 120,65 miliar.

Sementara itu, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengungkapkan jika para investor kini juga tengah wait and see menjelang rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. “Semua investor mulai hati-hati dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi,” ungkap Lana, seperti dilansir Kontan.

Akan tetapi, Lana mengatakan jika dalam jangka panjang rupiah diprediksi bisa menguat berkat aturan devisa hasil ekspor (DHE) yang hampir selesai. Aturan itu diperkirakan bisa memberi efek psikologis terhadap eksportir untuk meletakkan dananya dalam negeri dan mendukung pergerakan rupiah yang lebih stabil. “Jadi aturan ini akan membantu rupiah tertahan dan tidak jatuh terlalu dalam. Untuk hal ini, kita bisa sedikit otoriter,” tandasnya.

Loading...