Rupiah Rebound di Tengah Ancaman Rudal Korea Utara

mampu mengambil celah pada awal Selasa (5/9) ini di tengah ketegangan geopolitik terkait ancaman rudal Korea Utara. Seperti diwartakan Index, mata uang Garuda membuka transaksi pagi ini dengan menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.338 per AS. Sebelumnya, spot ditutup di posisi Rp13.339 pada perdagangan Senin (4/9) kemarin.

Sebuah mengatakan bahwa Korea Utara sedang mempersiapkan peluncuran rudal balistik antar-benua (intercontinental ballistic missile/ICBM) sebagai tindak lanjut uji coba nuklir apda hari Minggu (3/9) kemarin. Duta Besar AS untuk PPB, Nikki Haley, pun menyatakan bahwa Korea Utara seakan memberi ajakan perang dengan uji coba senjata nuklirnya pada akhir pekan lalu.

Situasi ini lantas membuat aset safe haven bergerak menguat setelah Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya mendeteksi persiapan oleh Korea Utara untuk kemungkinan peluncuran ICBM. Kinerja mata uang safe haven, seperti yen Jepang dan franc Swiss, memimpin kenaikan mata uang pada hari Senin, sedangkan emas naik ke level tertinggi dalam 11 bulan.

“Aset safe haven akan menjadi aset yang paling banyak dicari,” ujar ekonom di Capital Economics Ltd., Simona Gambarini. “Jika tensi panas ini terus berlanjut, harga logam mulia bisa menyentuh angka 1.350 dan bertahan di sana.”

Meski demikian, penghindaran terhadap aset berisiko imbas kondisi ini diperkirakan hanya berlangsung dalam jangka pendek. Pasalnya, biasanya ketegangan bakal mereda dengan cepat. “Kecuali jika respons global terhadap uji coba ini menimbulkan kemungkinan serangan militer atau keruntuhan rezim Korea Utara, kali ini mungkin akan berjalan sama,” tulis riset ekonom Citigroup Inc.

Dari dalam negeri, sentimen bisa datang dari laporan ekonomi terbaru yang menunjukkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,7% di bulan Agustus 2017. Dengan angka itu, maka laju 2017 diperkirakan makin terkendali sehingga semakin memberi ruang kepada (BI) menurunkan kembali suku bunga acuannya.

Loading...