Ditopang Prospek Nego AS-China, Rupiah Berakhir Positif

Rupiah - pojokpulsa.co.idRupiah - pojokpulsa.co.id

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Kamis (5/12) sore, ketika laporan terbaru mengenai kesepakatan perdagangan antara AS dan China mampu menopang mayoritas Asia. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda menguat 37 poin atau 0,26% ke level Rp14.068 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.094 per dolar AS, menguat 31 poin atau 0,22% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.125 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia berhasil mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,25% menghampiri peso Filipina.

Sejumlah mata uang Asia, seperti peso dan won Korea Selatan, relatif bergerak lebih tinggi, sedangkan kurs lainnya bergerak stabil menyusul laporan yang mengatakan bahwa AS dan China semakin membuat kemajuan untuk menyelesaikan kesepakatan dagang ‘fase satu’. AS dan China semakin dekat untuk menyetujui jumlah tarif yang akan dikurangi dalam kesepakatan perdagangan, terlepas dari tensi soal Hong Kong dan Xinjiang.

Dilansir Reuters, semalam, Trump mengatakan bahwa pembicaraan untuk menyelesaikan perang perdagangan yang merusak dengan China berjalan ‘sangat baik’. Bloomberg juga melaporkan bahwa kedua belah pihak bergerak mendekati kesepakatan, mengutip orang-orang yang akrab dengan pembicaraan tersebut.

Namun, tanpa jaminan resmi dari China, dan hanya sehari setelah Trump mengatakan kesepakatan mungkin tidak akan datang sampai setelah pemilihan presiden 2020, sentimen segera terhenti di perdagangan Asia. Hal tersebut membuat indeks dolar AS harus melemah 0,068 poin atau 0,07% ke posisi 97,580 pada pukul 13.41 WIB. “Terlalu dini untuk mengatakan apakah itu rebound, itulah cara saya melihat risiko saat ini,” tutur analis senior di Gain Capital di Singapura, Matt Simpson.

Fokus pasar saat ini tertuju pada rilis data nonfarm payroll pada Jumat (6/12) waktu setempat untuk mengetahui gambaran lebih lanjut tentang keadaan AS. Sebelumnya, pasar dikejutkan oleh penyusutan aktivitas manufaktur bulan keempat berturut-turut serta penurunan tak terduga dalam pengeluaran konstruksi, sehingga melunturkan harapan bahwa terbesar dunia itu telah stabil.

Loading...