Rupiah Merosot ke Rp 12.788

ARISTON TJENDRA tampaknya sedang mengalami masa kemerosotan berturut-turut sejak 6 minggu lalu akibat prospek Yunani untuk keluar dari zona , mengakibatkan teredamnya permintaan untuk aset emerging market. “Indeks Dolar Amerika saat ini sedang berada pada siklus yang tinggi,” kata Irene Cheung, analis valuta asing Australia & New Zealand Banking Group Ltd di Singapura. “Rupiah adalah salah satu mata uang yang terkena dampaknya.” Tambahnya.

Rupiah hari ini (12/2) diperdagangkan sebanyak 66 basis poin pada sesi awal antar Bank di Jakarta. Rupiah yang semula berada di posisi Rp 12.722 per Dolarnya kini beralih menjadi Rp 12.788 per Dolar Amerika. “Kurs Rupiah melemah berbarengan dengan merosotnya mata uang lain di Asia setelah negosiasi antara pihak Yunani dan ‘troika’ yang terdiri dari (ECB), Komisi Eropa (EC) dan Dana Moneter Internasional (IMF) tidak kunjung selesai,” Kata Pakar Ekonomi Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. Dia juga mengatakan bahwa penguatan Dolar Amerika juga didukung oleh ekspektasi tingkat pengangguran di AS yang menurun. Sedangkan kondisi di dalam negeri, dikatakan oleh Reza bahwa pelaku sedang menunggu finalnya revisi APBN 2015 yang rencananya akan dirilis minggu ini. “Rupiah diproyeksikan masih bepotensi melemah pada hari ini,” kata Rangga.

Ariston Tjendra, Kepala penelitian Monex Investindo Futures mengatakan bahwa antisipasi investor terhadap kenaikan oleh Amerika Serikat membayangi aset mata uang yang berisiko. Dia juaga memproyeksikan pergerakan Rupiah yang akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal dari hasil pertemuan antara para pemimpin Uni Eropa selama beberapa hari ke depan.

Loading...