Selasa Pagi, Rupiah Merah Jelang Laporan Neraca Perdagangan

Rupiah - inapex.co.idRupiah - inapex.co.id

JAKARTA – Rupiah belum mampu keluar dari zona merah pada transaksi Selasa (15/12) sore jelang pengumuman neraca bulan November 2020. Menurut data Bloomberg Index pukul 09.12 WIB, Garuda melemah 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.120 per . Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11% di posisi Rp14.095 per pada Senin (14/12) kemarin.

Pada hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) memang dijadwalkan untuk mengumumkan laporan neraca perdagangan Indonesia bulan November 2020. Sejumlah ekonom memprediksi, neraca perdagangan akan kembali mengalami walau kemungkinan sedikit turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,61 miliar dolar AS.

“Penurunan surplus perdagangan dipengaruhi oleh laju bulanan yang tercatat tumbuh 6,89% secara bulanan (mom). Sementara itu, ekspor diperkirakan tumbuh 1,89% mom,” tutur ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir dari Kontan. “Laju bulanan kinerja sejalan dengan peningkatan non-minyak dan gas (nonmigas) karena aktivitas manufaktur telah masuk dalam fase ekspansi pada bulan November 2020.”

Sementara itu, peningkatan ekspor didukung oleh peningkatan harga ekspor Indonesia seperti crude palm oil (CPO) yang naik 14,45% mom, batubara naik 9,15% mom, dan karet alam yang naik 1,90% mom. Peningkatan harga ini juga didukung oleh peningkatan volume ekspor yang terindikasi oleh tren peningkatan aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama Indonesia.

Dari eksternal, sentimen yang akan memengaruhi pergerakan rupiah hari masih seputar penutupan di sejumlah wilayah lantaran kasus COVID-19 yang kembali naik. Dikutip dari CNBC Indonesia, Wali Kota New York, Bill De Blasio, Senin kemarin mengatakan, kemungkinan akan dilakukan ‘full shutdown’ untuk meredam penyebaran . Padahal, New York menjadi kota pertama yang dilakukan vaksinasi.

Kasus COVID-19 dari dalam negeri juga sedang tinggi-tingginya. Kemarin, kasus baru tercatat sebanyak 5.489 orang, tetapi sebelumnya dalam 5 hari beruntun selalu di atas 6.000 kasus. Pada Kamis (3/12) kasus COVID-19 mencatat rekor penambahan 8.369 kasus. Untuk meredam peningkatan kasus, pemerintah memutuskan untuk melarang kerumunan dan perayaan tahun baru di tempat umum.

Loading...