Uji Obat COVID-19 Sukses, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - validnews.coRupiah - validnews.co

JAKARTA – Rupiah praktis bergerak stabil di zona hijau hingga perdagangan Jumat (17/4) sore ketika sentimen mulai membaik seiring dengan kabar ditemukannya obat untuk mengatasi virus corona. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 175 poin atau 1,12% ke level Rp15.465 per AS.

Sementara itu, Bank pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp15.503 per dolar AS, menguat tajam 284 poin atau 1,79% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.787 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,23% dialami rupiah.

Dari global, indeks dolar AS harus terjungkal pada hari Jumat karena laporan berita tentang tanda-tanda keberhasilan dalam uji coba pengobatan COVID-19 serta rencana untuk membuka kembali ekonomi AS mendorong untuk berburu aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,230 poin atau 0,23% ke level 99,795 pada pukul 11.21 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, situs berita medis STAT, mengutip catatan diskusi antara dokter yang terlibat dalam uji klinis, mengatakan bahwa sebagian besar dari 125 pasien yang diberi obat remdesivir dari Gilead Science Inc., di sebuah rumah sakit di Chicago, telah pulih dan dipulangkan. Namun, uji ini memberikan data yang diperlukan untuk menentukan keamanan atau kemanjuran sebagai pengobatan, dan masih diharapkan lebih banyak data yang mungkin akan tersedia pada akhir bulan.

Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, menjadikan aset berisiko kembali diburu. Di sisi lain, indeks dolar AS harus terbenam di area merah, seiring dengan pengumuman Presiden AS, Donald Trump, yang kembali berencana membuka lockdown pada awal bulan depan. Penurunan greenback diperparah dengan klaim pengangguran tersebut yang menyentuh angka 22 juta pada bulan ini.

“Ini menunjukkan ekonomi secara bertahap pulih dari yang terburuk,” kata ekonom senior di DBS di Hong Kong, Nathan Chow. “Namun, saya pikir pada kuartal kedua, kita akan melihat paling banyak stabilisasi, bukan rebound, karena kasus-kasus masih meningkat untuk sebagian besar mitra dagang China, yang akan mengurangi pesanan ke depan.”

Loading...