Selasa Sore, Rupiah Menguat Tipis Jelang Laporan Inflasi AS

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

JAKARTA – ternyata mampu menutup Selasa (14/9) ini di zona hijau, setelah sebelumnya harus dibuka melemah, ketika greenback terpantau bergerak lebih rendah jelang rilis AS. Menurut catatan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.247,5 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di Benua Asia terpantau bergerak variatif melawan greenback. Baht Thailand harus melemah 0,12%, disusul yen Jepang yang melorot 0,08%, dan dolar Singapura yang terkoreksi tipis 0,02%. Sebaliknya, won Korea Selatan mampu menguat 0,3%, diikuti peso Filipina yang naik 0,15%, dan ringgit Malaysia yang bertambah 0,02%, sedangkan yuan tampak stagnan.

“Mata uang Garuda akan melemah pada hari ini dan bergerak di kisaran Rp14.200 hingga Rp14.280 per dolar AS karena pelaku sedang mengantisipasi rilis data inflasi AS pada malam ini,” tutur analis uang, Ariston Tjendra, pagi tadi seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Namun, mata uang tidak akan melemah terlalu dalam, sebab indeks Asia tengah menghijau karena besarnya minat untuk masuk.”

Dari pasar global, dolar AS sedikit berubah terhadap mata uang utama lainnya pada hari Selasa di tengah penantian investor akan data inflasi AS untuk mendapatkan petunjuk tentang waktu pengetatan kebijakan oleh . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,071 poin atau 0,08% ke level 92,604 pada pukul 10.30 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, fokus investor saat ini memang tengah tertuju pada data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) AS yang akan diumumkan Selasa waktu setempat. Ekonom memperkirakan CPI inti, indeks yang menghapus harga energi dan makanan, naik 0,3% sepanjang Agustus 2021, sedangkan inflasi harga konsumen secara keseluruhan diprediksi sedikit turun dari 5,4% pada Juli 2021 menjadi 5,3%.

“Dengan CPI yang masih terlihat di atas 4%, inflasi berada pada level yang sangat tidak normal,” ujar ahli strategi senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Jerome Powell (Ketua The Fed) telah mengatakan inflasi akan bersifat sementara sejak Maret, tetapi bank sentral mungkin harus menyesuaikan kata-katanya dalam pernyataan kebijakan berikutnya.”

The Fed sendiri akan mengadakan pertemuan kebijakan pada minggu depan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pejabat Fed akan mencari kesepakatan untuk mulai mengurangi pembelian pada bulan November. “Tapering tahun ini sudah deal. Pertanyaan berikutnya adalah apakah Fed akan menaikkan suku bunga tahun depan atau tidak,” sambung Ishizuki.

Loading...