Selasa Pagi, Rupiah Menguat Tipis Jelang Rilis Cadangan Devisa

Rupiah - citypost.idRupiah - citypost.id

JAKARTA – masih mampu berada di jalur hijau pada Selasa (8/6) pagi, meski cenderung menipis, jelang rilis data Indonesia. Menurut Index pukul 09.07 WIB, mata uang Garuda naik 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.260 per AS. Sebelumnya, spot ditutup menguat 30 poin atau 0,21% di posisi Rp14.265 per AS pada Senin (7/6) sore.

“Pada perdagangan hari ini, eksternal yang masih memengaruhi pergerakan mata uang adalah isu tapering yang tetap menjadi fokus trader,” tutur Analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf, dikutip dari Kontan. “Isu tapering ini dapat mencuat, terutama pada perkiraan data consumer price index (CPI) yang diumumkan Kamis (10/6) dan diperkirakan naik.”

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa absennya rilis data AS menjadi penopang penguatan rupiah hingga Selasa. Hal tersebut juga didukung lelang Surat Utang (SUN) dengan target indikatif Rp30 triliun. “Angka Rp30 triliun diperkirakan bisa mendorong sehingga menopang penguatan rupiah secara terbatas,” ujar Josua.

Saat ini, domestik menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia bulan Mei 2021 yang diprediksi mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Alwi memperkirakan bahwa cadangan devisa akan naik menjadi 140 miliar dolar AS dibandingkan 138,8 miliar dolar AS pada April 2021. Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, juga memprediksi cadangan devisa akan naik sekitar 500 juta hingga 1 miliar dolar AS.

“Potensi kenaikan cadangan devisa pada bulan lalu didorong adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri akibat pemerintah Indonesia berhasil menerbitkan dan menjual samurai bond senilai Rp13,21 triliun,” kata Faisal. “Selain itu, potensi naiknya cadangan devisa juga didorong oleh keyakinan akan terjadinya surplus neraca perdagangan pada Mei 2021.”

Faisal menambahkan, potensi peningkatan cadangan devisa masih besar hingga akhir tahun. Bahkan, pada akhir tahun 2021, diperkirakan posisi cadangan devisa berada di kisaran 140 miliar hingga 142 miliar dolar AS atau lebih tinggi daripada posisi akhir 2020 yang senilai 135,9 miliar dolar AS. “Kami optimistis bahwa investasi masih akan masuk, seiring dengan katalis positif berupa manajemen fiskal yang baik dan implementasi UU Cipta Kerja,” sambung Faisal.

Loading...