Kamis Sore, Rupiah Menguat Saat Tensi AS-China Mencair

Rupiah - geotimes.co.idRupiah - geotimes.co.id

JAKARTA – Seperti diperkirakan sebelumnya, rupiah mampu terus melaju di zona hijau hingga Kamis (12/9) sore seiring dengan tensi dagang AS-China yang sedikit mencair sehingga menaikkan pamor aset berisiko. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda menguat 66 poin atau 0,47% ke level Rp13.994 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.052 per dolar AS, menguat 11 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.063 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga berhasil mengalahkan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,52% dialami won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS cenderung bergerak lebih rendah pada hari Kamis, ketika ketegangan perdagangan antara AS dan China sedikit mencair dan memicu minat investor untuk aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,121 poin atau 0,12% ke level 98,524 pada pukul 15.43 WIB dari level penutupan transaksi sebelumnya.

Seperti diberitakan Reuters, dua kekuatan terbesar di dunia memberikan konsesi dalam perselisihan mereka. Pada Rabu (11/9) waktu setempat, pemerintah China membebaskan sekelompok barang AS dari pengenaan tarif impor, sedangkan Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa pihaknya akan menunda kenaikan tarif yang dijadwalkan berlaku pada Oktober.

“Mencairnya hubungan AS dan China tampaknya mulai menjadi momentum,” kata analis pasar senior untuk Asia Pasifik di pialang OANDA di Singapura, Jeffrey Halley. “Namun, itu mungkin tidak akan bertahan lama, sama seperti tweet presiden tentang tarif pagi ini, yang telah menyuntikkan lebih banyak sentimen. Namun, kita tidak dapat memprediksi apa yang ada di dalam kepalanya.”

Saat ini, para investor sedang menantikan hasil pertemuan European Central Bank (ECB) pada hari ini waktu setempat. menyesuaikan sikapnya untuk keputusan penetapan suku bunga yang akan datang oleh AS, , dan Bank of Japan (BOJ) pada pekan depan, serta untuk daya tarik aset berisiko global.

Loading...