Kamis Sore, Rupiah Menguat Meski Suku Bunga BI Turun

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – ternyata mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Kamis (22/8) sore meski Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan acuan sebesar 25 basis poin di tengah ketidakpastian . Menurut data Bloomberg Index pada pukul 15.54 WIB, mata uang Garuda menguat 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.239 per dolar AS.

Siang tadi Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi di bawah titik tengah, tetap menariknya imbal hasil aset , serta langkah preemptive untuk mendorong pertumbuhan dalam negeri.

Sementara, dari global, gerak indeks dolar AS cenderung fluktuatif pada hari Kamis, setelah risalah pertemuan menutup beberapa ekspektasi agresif bank sentral untuk serangkaian penurunan suku bunga di sisa tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,112 poin atau 0,11% ke level 98,183 pada pukul 14.34 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, pada pertemuan terakhir bulan Juli, The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu dekade menjadi 2,00-2,25%. Dalam risalah pertemuan terbaru, pejabat bank sentral AS sangat terpecah atas apakah akan memotong suku bunga bulan lalu, tetapi bersatu dalam keinginan untuk memberi sinyal bahwa mereka tidak berada di jalur pemotongan lebih lanjut.

Saat ini, investor sedang menantikan simposium pejabat bank sentral global di Jackson Hole yang berlangsung Jumat (23/8) besok. Pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell, menjadi yang paling dinantikan setelah inversi dalam kurva yield obligasi Treasury AS menyoroti risiko bahwa ekonomi AS mungkin jatuh ke dalam resesi.

“Imbal hasil untuk saat ini sedang mendukung dolar AS, tetapi ini mungkin tidak berlangsung lama, terlebih setelah pidato Powell,” tutur analis valas senior di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Pemotongan suku bunga tambahan benar-benar diperkirakan. Jika Powell terdengar hawkish, investor dapat melepas saham yang akan menekan .”

Loading...