Kamis Sore, Rupiah Tetap Menguat Selepas Liburan Natal

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Rupiah masih mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Kamis (26/12) sore selepas libur Natal di tengah optimisme investor mengenai kesepakatan antara AS dan China. Menurut paparan Index pada pukul 15.50 WIB, Garuda menguat 21 poin atau 0,15% ke level Rp13.958 per .

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp13.982 per dolar AS, terdepresiasi 4 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.978 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia mampu mengungguli greenback meski tipis, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,3% menghampiri peso Filipina.

Dilansir dari Reuters, mata uang yang termasuk aset berisiko, termasuk dolar AS, relatif menguat pada hari Kamis, didukung oleh optimisme selesainya ketegangan perdagangan antara AS dan Cina serta tanda-tanda pemulihan pertumbuhan global. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,007 poin atau 0,01% ke level 97,639 pada pukul 14.29 WIB.

“Ada beberapa keraguan apakah mereka (AS dan China) benar-benar bisa menandatangani kesepakatan,” ujar ahli strategi mata uang di Nomura Securities, Ei Kaku. “Namun, minggu ini China telah mengumumkan pemotongan mereka, sementara (Donald) Trump juga berbicara tentang upacara untuk kesepakatan itu. Jadi, rasanya lebih mungkin bahwa kesepakatan akan tercapai.”

mata uang global memang masih tetap dalam suasana liburan setelah Hari Natal pada hari Rabu (25/12) dan dengan beberapa pusat dagang masih ditutup pada hari Kamis. Namun, para pedagang telah diselimuti keyakinan setelah Washington dan Beijing mencapai kesepakatan sementara mengenai perdagangan awal bulan ini, yang diperkirakan akan terus menopang aset berisiko.

Survei pada aktivitas manufaktur di banyak negara juga telah menunjukkan tanda-tanda bottoming dalam beberapa bulan terakhir. Di pasar mata uang, selera risiko yang lebih kuat biasanya diterjemahkan menjadi lebih banyak penjualan dalam mata uang safe haven, seperti yen Jepang, terhadap mata uang yang lebih dipengaruhi pertumbuhan, terutama di China, seperti dolar Australia.

Loading...