Jumat Sore, Rupiah Ditutup Menguat Jelang Rilis NFP AS

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – mampu bertahan di area hijau hingga Jumat (7/5) sore, memanfaatkan pelemahan yang dialami menjelang pengumuman nonfarm payrolls AS bulan April 2021. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 34 poin atau 0,24% ke level Rp14.285 per AS.

“Rupiah memang berpotensi menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, didukung yield Treasury AS yang cenderung tertekan dan optimisme pemulihan ekonomi global,” ujar pengamat uang, Ariston Tjendra, dilansir dari Antara. “Hasil rapat moneter semalam, Bank Sentral Inggris juga menunjukkan optimisme pemulihan ekonomi Inggris tahun ini di atas level sebelum pandemi.”

Menurut analisis CNBC Indonesia, rupiah mampu menguat sejak pertengahan April lalu setelah munculnya stochastic bearish divergence. Stochastic dikatakan mengalami bearish divergence ketika grafiknya menurun, tetapi suatu aset masih menanjak. Munculnya stochastic bearish divergence kerap dijadikan sinyal penurunan suatu aset, dalam hal ini dolar AS terhadap rupiah bergerak turun, atau rupiah akan menguat.

“Aliran modal juga mulai masuk ke pasar finansial Indonesia belakangan ini, membuat rupiah perkasa. Di pasar , asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp321 miliar, kemarin juga terjadi hal yang sama senilai Rp201 miliar di pasar reguler,” tulis CNBC Indonesia. “Di pasar obligasi, melansir data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang bulan April terjadi capital inflow di pasar obligasi sebesar Rp13,2 triliun.”

Sementara itu, dari pasar global, dolar AS tetap di bawah tekanan moderat pada hari Jumat menjelang laporan pekerjaan utama AS yang dapat memperkuat ekspektasi pemulihan ekonomi yang kuat dan mendorong minat investor untuk saham, mata uang, dan komoditas berimbal hasil lebih tinggi. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,121 poin atau 0,13% ke level 90,830 pada pukul 15.03 WIB.

Seperti dilansir Reuters, laporan nonfarm payrolls AS April 2021 yang akan diumumkan Jumat ini waktu setempat diprediksi menambahkan 978.000 pekerjaan, setelah mendapatkan 916.000 pekerjaan di bulan sebelumnya. Menjelang rilis, data hari Kamis (6/5) menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran di AS turun di bawah 500.000 pada pekan lalu, atau pertama kalinya sejak pandemi COVID-19.

“Pada bulan Maret, dolar AS naik tajam saat semua orang berbicara tentang inflasi. Namun, itu telah kehilangan momentum. Saya pikir itu akan sulit untuk terus berbicara tentang kekhawatiran inflasi tanpa bukti sebenarnya,” kata ekonom pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Ayako Sera. “Sejak itu, kami terjebak dengan teka-teki tentang apakah data pekerjaan yang kuat akan menyebabkan lebih banyak pengambilan risiko atau lebih kekhawatiran inflasi.”

Loading...