Makin Mantul, Rupiah Menguat 0,69% di Selasa Pagi

Rupiah - Tribunnews.comRupiah - Tribunnews.com

semakin memantapkan posisi di area hijau pada perdagangan Selasa (6/10) pagi ketika greenback cenderung goyah. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda tajam 102 poin atau 0,69% ke level Rp14.698 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir naik 64,5 poin atau 0,43% di posisi Rp14.800 per dolar AS pada Senin (5/10) kemarin.

Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir CNN Indonesia, penguatan rupiah kemarin didorong oleh kabar bahwa obat penanganan -19 hasil racikan holding BUMN farmasi, yakni PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma siap digunakan. Kedua perusahaan farmasi tersebut dilaporkan sudah mampu memproduksi obat untuk penanganan -19, yaitu Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi dan Remdesivir dengan merk dagang Desrem.

“Dengan dipasarkannya obat Covid-19, maka ada secercah harapan di tengah masyarakat yang terjangkit Covid-19 yang sampai saat ini terus meningkat,” tutur Ibrahim. “Setelah obat dipasarkan, kemungkinan masyarakat yang terkena Covid-19 akan berangsur sembuh dan lonjakan virus corona akan kembali melandai.”

Ibrahim menambahkan, kondisi tersebut akan meningkatkan aktivitas masyarakat, perkantoran, hingga di Indonesia. Meskipun demikian, masyarakat yang akan memulai kembali aktivitas mereka, tetap harus menegakkan protokol kesehatan. “Kalau protokol ini dilakukan dan berjalan sesuai dengan regulasi , maka roda kembali berputar dan konsumsi masyarakat terus meningkat,” sambung Ibrahim.

Sementara, untuk perdagangan hari ini, Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong, dikutip Kontan, mengatakan, penguatan rupiah kemarin, berpeluang kembali berlanjut pada perdagangan Selasa. Sentimen terkait positifnya kondisi Presiden AS, Donald Trump, masih menjadi penggerak utama dalam jangka pendek ke depan. saat ini cukup menjauhi dolar AS yang tercermin dari pelemahan greenback secara merata terhadap seluruh mata uang

Setali tiga uang, ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri, menilai bahwa kabar terkait Trump telah membuat ketidakpastian di pasar meninggi. Para investor pun menjual dolar AS seiring arah ekonomi dan AS yang tidak menentu dan memburuk. Sentimen inilah yang disebut Reny masih akan menggerakkan perdagangan rupiah pada hari ini.

Loading...