Pasar Abaikan Konflik AS-Iran, Rupiah Ditutup Positif

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Selasa (7/1) sore, ketika investor agaknya sedikit mengabaikan ketegangan di antara AS dan Iran. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda berakhir menguat 66 poin atau 0,47% ke level Rp13.878 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.919 per dolar AS, menguat 42 poin atau 0,30% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.961 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga sukses mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,6% dialami won Korea Selatan.

Sebelumnya, aset berisiko cenderung dihindari menyusul serangan udara AS di Irak yang menewaskan salah satu jenderal Iran, membuat kondisi di kawasan Timur Tengah. Namun, perlahan mengabaikan sentimen risk-off yang dipicu oleh ketegangan antara AS dan Iran, meskipun aset yang lebih aman, seperti franc Swiss dan yen Jepang masih diburu.

“Pasar tidak menetapkan eskalasi penuh di Timur Tengah,” tutut kepala analis Asia di Skandinaviska Enskilda Banken, Eugenia Fabon Victorino, seperti dilansir dari Bloomberg. “Terlepas dari adanya reli yang dialami won, mata uang tersebut tampaknya masih akan berada di bawah tekanan untuk jangka panjang karena ekonomi Korea Selatan masih lemah.”

Dari pasar global, indeks dolar AS berusaha bangkit pada hari Selasa, ketika munculnya flashpoint geopolitik yang baru membuat investor menilai kembali toleransi mereka terhadap aset risiko di awal tahun. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,017 poin atau 0,02% ke level 96,688 pada pukul 15.32 WIB, setelah kemarin (6/1) ditutup negatif.

Dilansir dari Reuters, franc Swiss menahan kenaikan terhadap greenback karena investor mencari tempat berlindung di tengah kecemasan tentang kemungkinan pembalasan Iran atas serangan AS. Yen Jepang, aset safe haven lainnya, memang mengalami sedikit penurunan, tetapi sentimen tetap rapuh karena meningkatkan potensi konflik bersenjata AS-Iran.

Loading...