Negosiasi AS-China Lancar, Rupiah Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

JAKARTA – Seperti prediksi awal, sanggup bertahan di zona hijau pada Jumat (11/10) sore ketika pembicaraan antara AS dan China dikabarkan berlangsung sangat baik sekaligus mengirim ke area negatif. Menurut laporan Index pada pukul 15.55 WIB, Garuda ditutup menguat 12 poin atau 0,09% ke level Rp14.138 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.139 per dolar AS, menguat 18 poin atau 0,12% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.157 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia kompak mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,61% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, pergerakan indeks dolar AS tertahan pada hari Jumat, seiring harapan kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China yang mengangkat mata uang berisiko, sedangkan komentar optimistis dari Eropa tentang mendorong pound sterling. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,063 poin atau 0,06% ke level 98,638 pada pukul 15.44 WIB.

Dilansir Reuters, negosiator terkemuka AS dan China mengakhiri pembicaraan perdagangan pada hari Kamis (10/10), dengan Presiden AS, Donald Trump, menggambarkan pertemuan tersebut sebagai ‘negosiasi yang baik dengan China’. Kelompok-kelompok bisnis juga menyatakan optimisme bahwa kedua pihak mungkin dapat meredakan perang dagang yang telah melemahkan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan antara Wakil Perdana Menteri China, Liu He, Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, dan Menteri AS, Steven Mnuchin, diperkirakan akan dilanjutkan pada Jumat ini. Pertemuan tersebut dipandang sebagai hal yang lebih positif, setelah beberapa asal Negeri Tirai Bambu masuk dalam daftar hitam AS.

“Yang diperlukan hanyalah satu tweet, satu tajuk utama untuk mengubah lanskap,” catat analis di OCBC Bank di Singapura. “Situasi saat ini menunjuk pada pergerakan dolar AS yang berat, tetapi mengingat sentimen yang tidak jelas, kami mendesak agar tidak mengejar perdagangan risk-on yang lebih tinggi secara berlebihan.”

Loading...